BREAKING NEWS
 

93 Persen Pekerjaan Bakal Pake Internet

Gawat, Indonesia Darurat Talenta Digital

Reporter : ALFIAN SIDIK
Editor : ESTI FITRIA WULANDARI
Sabtu, 23 Maret 2019 07:12 WIB
Ilustrasi digital talent (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Semakin masifnya perusahaan yang melakukan transformasi digital,  nyatanya tidak dibarengi dengan meningkatnya talenta digital di Indonesia. Saat ini, Indonesia dinilai darurat talenta digital karena minimnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni dalam menguasai teknologi.

Presiden Direktur Microsoft Indonesia Haris Izmee mengungkapkan, saat ini Indonesia sudah berada di era digital karena seluruh bisnis dan organisasi melakukan digitalisasi. Apakah itu dari segi operasional, produk yang ditawarkan, hingga cara berkomunikasi dengan konsumen. “Namun satu hal yang harus diingat, transformasi digital harus dibarengi dengan transformasi sumber daya manusianya,” ujarnya di Jakarta, Jumat (22/3).

Sebuah studi yang dilakukan Microsoft bersama International Data Corporation (IDC) di 2018 menyebut, digital talent adalah salah satu kunci penting transformasi digital. Salah satu fakta dari studi tersebut menyebutkan, terhambatnya transformasi digital di Indonesia adalah kurangnya digital talent. Menurut Haris, ada sejumlah alasan mengapa digital talent sangat dibutuhkan Indonesia ke depannya. Menurutnya, kontribusi perusahaan terhadap negara akan semakin besar, jika talenta digitalnya digenjot.

Baca juga : Macan Kemayoran Pantang Jumawa Lawan Tim Debutan

“Dari sudut pandang ekonomi, studi Microsoft memprediksi pada tahun 2022, 61 persen PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia didapatkan dari layanan jasa dan produk digital. Angka ini mengalami pertumbuhan, jika dibandingkan dengan tahun 2017. Sebab, banyak perusahaan yang melakukan transformasi digital,” tutur Haris.

Studi Microsoft dan IDC pada Februari 2018 juga menunjukkan, dalam 3 tahun ke depan, 93 persen pekerjaan akan mengalami transformasi digital. 68 persen pekerjaan akan dialihfungsikan ke posisi-posisi baru yang memerlukan pelatihan ulang, agar siap menghadapi transformasi digital.

Adsense

“Kami juga sependapat dengan temuan riset IDC yang menyebutkan, core technology akan mendorong transformasi digital. Yang banyak embutuhkan digital talent adalah Artificial Intelligence (AI) dan cloud computing atau komputasi awan,” jelas Haris,

Baca juga : Infrastruktur Jokowi Antarkan Indonesia Masuk Abad Milenial

Head of Operation IDC Indonesia Mevira Munindra mengatakan, Indonesia belum sepenuhnya siap menghasilkan talenta digital. “Tak heran, jika  banyak perusahaan yang memilih mencari digital talent dari luar negeri. Microsoft sebagai perusahaan teknologi, sangat menyadari itu," kata Mevira.

CEO Blibli Kusumo Martanto mengakui, kondisi darurat talenta digital yang terjadi di Indonesia, lebih diakibatkan oleh minimnya sumber daya manusia di ranah teknologi. “Kami akui, talenta digital di Indonesia masih sangat kurang. Kami kesulitan. Kami mohon bantuan Menteri Kominfo Pak Rudi, untuk penyediaan 1.000 talenta digital,: ujar Kusumo.

Dalam upaya pengembangan talenta digital, Kusumo mengaku telah mengirimkan beberapa talenta Indonesia ke pusat pelatihan teknisi digital di Bangalore, India. Diharapkan, talenta yang dikirim belajar itu mampu mentransfer pengetahuan, ketika kembali ke Indonesia. “Kami juga ada kerja sama di Bangalore. Kami kirim orang-orang Indonesia untuk belajar, agar mereka merasakan belajar dengan atmosfer internasional. Bawa ilmu sebanyak-banyaknya, lalu ajari adik-adiknya. Hal itu terus kami lakukan,” imbuhnya.

Baca juga : Beringin Bakal Mainkan Serangan Darat & Udara

Dalam pelatihan talenta digital, Kusumo  juga menggandeng beberapa universitas di Indonesia, dan menyiapkan beasiswa bagi mahasiswa mulai dari semester 5 untuk diberikan kesempatan ke Bangalore. “Kami memberikan insentif. Kami kerja sama dengan universitas. Mahasiswa yang sudah semester 5, bisa diseleksi untuk ikut bergabung dalam program tersebut. Peluang belajar mereka tak hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri," terangnya.  

Pada kesempatan yang sama, Kusumo menilai lulusan S1 Teknologi Informasi di Indonesia kurang berdaya saing. Tak siap masuk dunia kerja.  “Saya bukannya mau mengkritik ya. Tapi, faktanya, banyak sekali mahasiswa yang lulus, ada ijazahnya, tapi belum siap kerja di dunia nyata. Harusnya, ada pelatihan tertentu agar saat lulus bukan hanya modal ijazah, tapi sudah langsung siap pakai,” ucap Kusumo. [ASI]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense