Sebelumnya
Pandu menjelaskan, faktor utama penularan karena masifnya mobilisasi penduduk. Karenanya, dia mewanti-wanti momentum liburan akhir tahun nanti.
“Yang utama itu penyebabnya mobilisasi penduduk yang masif. Makanya harus bisa dicegah. Meskipun varian baru yang lebih hebat dari Delta, sejauh ini belum ada,” ungkap dia.
Baca juga : Pemerintah Berupaya Tingkatkan Akses Penyandang Disabilitas
Seperti diketahui, pada momen libur Idul Fitri 2020 (22-25 Mei 2020), terjadi lonjakan kasus harian Covid-19 mencapai 93 persen dengan angka kematian mingguan naik hingga 66 persen. Kemudian, libur Kemerdekaan Republik Indonesia (17,22-23 Agustus 2020), terjadi kenaikan kasus harian Covid-19 hingga 119 persen dengan lonjakan angka kematian karena Corona naik hingga 57 persen. Selanjutnya, momen libur Maulid Nabi, (28 Oktober hingga 1 November 2020), terjadi lonjakan kasus harian hingga 95 persen, dengan peningkatan angka kematian mingguan hingga 75 persen. Dan, momen libur Natal dan Tahun Baru (24 Desember hingga 3 Januari 2021), terjadi kenaikan kasus hingga 78 persen dengan dibarengi peningkatan angka kematian mingguan mencapai 46 persen.
Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito menekankan pentingnya belajar dari pola kenaikan kasus selama pandemi di Indonesia. Terlebih lagi, dengan adanya wacana akan dibolehkannya kegiatan besar dan makin dekatnya libur akhir tahun periode Natal dan Tahun Baru 2022. Menurunnya kasus selama 10 minggu berturut-turut harus disikapi dengan bijak dan berhati-hati. Hal ini agar Indonesia dapat terhindar dari potensi ancaman lonjakan ketiga. “Berdasarkan pengalaman, kenaikan kasus hampir selalu terjadi pasca kegiatan besar,” ingat Wiku.
Baca juga : Pemerintah Pastikan PON Papua Digelar Di Zona Aman Covid-19
Jika dilihat dari pola kenaikan, kasus mulai turun setelah pembatasan diberlakukan. Baik itu mobilitas maupun kegiatan sosial. Begitu kasus turun dan pembatasan mulai dilonggarkan, kasus meningkat lagi perlahan. Artinya, upaya menjaga protokol kesehatan belum maksimal.
“Padahal disiplin protokol kesehatan menjadi upaya paling mudah dan murah yang bisa dilakukan,” ujar Wiku.
Baca juga : Bamsoet Dorong Pemerintah Tingkatkan Kesejahteraan Purnawirawan-Veteran
Pelajaran yang dapat diambil dari lonjakan kedua, kata Wiku, Indonesia kehilangan banyak nyawa. Poduktivitas masyarakat dan tidak stabilnya ekonomi. Dan penting diingat, bahwa lonjakan kasus kedua mengakibatkan 2,5 juta orang positif terinfeksi Covid-19, dan 94.000 di antaranya dilaporkan meninggal dunia. Lalu, angka positif rate mingguan tertinggi berada pada angka 30,72 persen atau 6 kali lipat dari standar yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO. Terlebih pula kasus aktif mingguan sempat mencapai 24,21 persen. Hingga saat ini tercatat 900.000 orang yang sembuh. Pencapaian ini, kata dia, diraih dengan perjuangan berat mengingat persentase ketersediaan tempat tidur nasional sempat mencapai hampir 80 persen.
“Indonesia perlu waspada potensi lonjakan ketiga seperti yang dihadapi berbagai negara di dunia. Pemerintah harus bisa melihat pola kenaikan kasus. Sekali lagi, saya tekankan bahwa apapun upaya yang akan dilakukan jika pelaksanaan dan pengawasan protokol kesehatan tidak kuat, maka hal tersebut tidak akan berjalan efektif,” pungkas Wiku. [FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.