Sebelumnya
Di Yogyakarta, misalnya, ada enam orang meninggal di hari yang sama ketika tengah isoman.
“Gejala ringan itu menjadi misleading. Ketika isoman tapi gejalanya ringan, tetapi karena punya komorbid dia bisa menjadi gejala berat sehingga orang-orang tersebut butuh perhatian khusus. Memang kita perlu ada sistem yang lebih baik,” jelasnya.
Baca juga : Putus Penyebaran Covid-19, Kapolri Imbau Masyarakat Dirawat Di Isoter
Petugas kesehatan diminta bersikap tegas demi keselamatan pasien. Pasien yang tidak layak isoman, mesti diarahkan untuk isoter (isolasi terpusat) dengan pengawasan tepat.
Bagi kelompok risiko tinggi seperti lansia, perlu mendapat perhatian khusus. Apalagi mereka yang belum tervaksinasi, serta mereka yang memiliki komorbid.
Baca juga : Genjot Penerima Pembiayaan UMi, PIP Manfaatkan Teknologi Digital
“Mereka perlu melakukan isolasi di tempat isolasi terpusat atau ada upaya monitoring yang lebih kuat dan peningkatan testing (pemeriksaan) dan tracing (pelacakan). Itu perlu terus dilakukan,” tutur Riris.
Dia juga menyoroti varian Omicron yang rentan menular kepada anak. Layanan isoter sebaiknya juga memperhatikan kenyamanan bagi anak. Meski bersifat sementara, layanan isoter untuk anak tetap harus diperhatikan. “Omicron lebih menular kepada anak,” tegasnya.
Baca juga : Hari ini, Pasien Rawat Inap Wisma Atlet Tambah 247 Orang
Jika tak ada kesadaran untuk meningkatkan kewaspadaan, maka kasus Omicron ini masih bisa melonjak lebih tinggi. Kemampuan reinfeksi Omicron ini bisa jauh lebih tinggi dan cepat.
“Efek reaksi berantainya itu yang bisa menyebabkan masalah yang lebih besar,” beber Riris. [JAR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.