BREAKING NEWS
 

Bersanding Setelah Bertanding

Cebong Dan Kampret Tirulah Messi-Mbappe

Reporter : M ADE AL KAUTSAR
Editor : SISWANTO
Selasa, 20 Desember 2022 06:50 WIB
Wajah tegang Mbappe dan Messi merupakan sepotong momen yang sulit dilupakan pada laga final Piala Dunia 2022 di Stadion Lusail, Minggu (18/12/2022) Foto: Instagram PSG

 Sebelumnya 
Politisi senior PDIP, Hendrawan Supraktikno berharap, politik Indonesia yang panas bisa belajar pada final Piala Dunia.

“Final bola mengajari kita, bagaimana setelah proses latihan panjang dengan kesabaran dan kepatuhan yang luar biasa, Argentina menang dan Prancis bisa bersikap ksatria menerima kekalahannya,” kata Hendrawan, tadi malam.

Baca juga : Menag: Bom Bandung Bertentangan Dengan Agama Dan Nilai Kemanusiaan

Ia optimis, Pilpres 2024 mendatang akan lebih baik dan kondusif dibanding sebelumnya. Apalagi setelah melihat komitmen Ketum PBNU dan Ketum Muhammadiyah yang terus menggaungkan politik kebangsaan dan persatuan. “Itu hadiah terbesar,” sambungnya.

Kepala Badan Komunikasi Strategis (Bakomstra) DPP Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra mengatakan, ketika Pilpres 2019, Demokrat partai pendukung Prabowo-Sandi yang pertama mengucapkan selamat kepada Jokowi di saat pihak lain belum bisa menerima kekalahan.

Baca juga : Media Tak Boleh Lelah Bantu Damaikan Israel-Palestina

Soal politik identitas yang kerap dikambing hitamkan sebagai biang kerok polarisasi, nilainya hanya alat. Pemicu utamanya, kata Herzaky adalah politik kebencian. Selain itu, wasit yang adil dan pemain yang sportif sangat menentukan kondusifnya suatu pertandingan.

Pengamat politik, Ray Rangkuti berpandangan, faktor pertama yang menentukan kondusifitas politik Indonesia adalah tingkat kedewasaan. Ia mencontohkan, semua pihak di final Argentina vs Prancis itu menyadari bahwa pertandingan itu hanya 2 kali 45 menit, plus extra-time dan penalti.

Baca juga : Perang Bintang Polri, Rakyat Ikut Merasakan

“Selebihnya adalah pertemanan. Kalau pertndingan itu tidak dibumbui identitas, itu mudah bagi siapapun setelah bertanding menjadi berangkulan. Kalau dibarengi identitas itu sangat sulit berangkulan. Kemarin kan enggak ada isu rasial dan identitas,” kata Ray tadi malam.

Ia mengimbau agar siapapun yang berkontestasi di Pilpres 2024 mendatang fokus pada adu gagasan dan visi misi, bukan memprovokasi kebencian. [SAR]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense