BREAKING NEWS
 

Emisi Karbon Minimum di Indonesia dengan Transportasi

Writer : Shendi Moses Ginting
Editor : UJANG SUNDA
Rabu, 28 Desember 2022 14:34 WIB
Kendaraan rendah emisi karbon (Foto: Canva)

Karbon adalah salah satu unsur yang kita kenal sebagai pembentuk senyawa-senyawa di bumi. Unsur ini sebenarnya sangat membantu kehidupan manusia. karena kita sendiri terbentuk dari mereka. Tapi, di konteks yang berbeda, emisi dari karbon dalam bentuk COatau karbon dioksida sangat merusak. Emisi dari karbon dioksida bisa merusak lingkungan dan atmosfer kita (lapisan ozon). Emisi dari karbon dioksidalah penyebab terbesar efek rumah kaca bisa terjadi.

COakan terus bertambah seiring berjalannya waktu jika tidak segera ditanggulangi. Karena salah satu faktor penghasil emisi COdi lingkungan adalah kendaraan, lebih spesifik adalah sisa pembakaran kendaraan. Kita tahu bersama dan merasakannya bahwa keberadaan transportasi sangat diperlukan bagi manusia karena transportasi sangat memudahkan manusia dalam mobilisasi dari satu tempat ke tempat yang lain. Namun, harga dari mobilisasi tersebut adalah peningkatan emisi gas karbon dioksida yang berpotensi besar merusak lingkungan.

Kendaraan zaman sekarang sudah menggunakan bensin sebagai bahan bakar agar mesin bisa bekerja. Bensin terbuat dari senyawa karbon. Ketika bensin digunakan pada kendaraan, maka sisa-sisa pembakaran dari bensin tersebut akan berbentuk gas karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), nitrogen oksida (NO), sulfur dioksida (SO2), dan hidrokarbon (HC), dan salah satu dari mereka adalah karbon dioksida. 

Baca juga : Datang Dari Jatim, Muda-mudi Buddhis Se-Indonesia Undang Ganjar Bicara Kebangsaan

Berdasarkan data nasional yang diberikan oleh Tribun, Indonesia menyumbang sebesar 0,62 miliar ton atau 620 juta ton per tahun 2021. Angka tersebut bukanlah angka yang kecil mengingat emisi karbon dioksida secara global adalah 40,6 miliar ton per tahun 2021, berdasarkan kedua data tersebut bisa kita lihat bahwa Indonesia sendiri bisa menyumbangkan sekitar 1,5 persen emisi karbon dioksida ke bumi. Berdasarkan data dari Kompas, pada tahun 2020 kendaraan beroda empat menghasilkan 59,3 juta ton emisi karbon dioksida dan kendaraan beroda dua menghasilkan 36 juta ton emisi karbon dioksida. Coba kita bandingkan dengan data emisi karbon dioksida nasional, bisa kita dapatkan total emisi dari kendaraan adalah 95,3 juta ton dengan persentase 15,37 persen, bisa kita katakan dalam sehari Indonesia bisa menghasilkan sekitar 261.095 kg emisi karbon dioksida. 

Adsense

Mari kita tilik lagi lebih spesifik, berdasarkan data dari jurnal yang saya baca tentang emisi karbon dioksida yang dihasilkan kendaraan di Kecamatan Kedaton, Bandar Lampung, pada Januari 2021, kendaraan beroda dua dan beroda empat ditotal menyumbang sekitar 326.096 kg setiap jamnya. Berarti, dalam satu hari bisa mencapai 7,8 juta kg emisi karbon dioksida. Dari data tersebut saja sudah bisa dilihat seberapa banyak emisi karbon dioksida yang bisa terbentuk untuk satu kecamatan.

Saya mecoba menganalisis apa yang terjadi dengan semua data tersebut dan akhirnya saya menemukan dua hal penting, kuantitas, dan waktu. Setiap kendaraan beroda dua saya asumsikan menghasilkan emisi karbon dioksida yang sama setiap jamnya, maka yang membedakannya adalah waktu penggunaan kendaraan dan jumlah dari kendaraan tersebut. Berdasarkan berita dari Bisnis.com, Indonesia menduduki peringkat ke-3 sebagai negara dengan pengguna motor terbanyak. Hal ini bisa menjadi tolak ukur saya untuk mengetahui sebanyak apa kendaraan yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Kita juga ketahui bahwa semakin lama suatu kendaraan bergerak berarti semakin banyak bensin yang dibakar, semakin lama waktu penggunaannya berakibat pada peningkataan emisi karbon dioksida. Jika kedua faktor tersebut digabungkan, maka bisa dikatakan bahwa kuantitas dan waktu penggunaan dari kendaraan sangat berpengaruh pada peningkatan emisi karbon dioksida. 

Baca juga : Nasionalisme Indonesia Yang Terbuka

Karena masalahnya terdapat pada kuantitas dan waktu penggunaannya, maka dengan mengurangi kuantitas dan waktu pemakaian dari kendaraan seharusnya bisa mengurangi emisi karbon dioksida tersebut. Kita tahu bersama kalau di Indonesia sering terjadi kemacetan terutama di kota kota besar dan pada momen liburan panjang. Kemacetan biasanya terjadi dalam waktu yang lama dan kendaraan cenderung tetap dinyalakan saat kemacetan tersebut, hal tersebut berakibat pada pembakaran bensin yang sia sia atau pembakaran bensin tanpa perpindahan. Seharusnya kita bisa mematikan mesin kendaraan sejenak sambil menunggu momen untuk bergerak. Setidaknya kita bisa mengurangi jumlah bensin yang digunakan sehingga emisi yang dihasilkan dari pembakaran bensin bisa diminimalisir. Terutama bagi pengguna kendaraan beroda dua karena ketika mereka terjebak dalam kemacetan mereka bisa dengan mudah bergerak tanpa harus menghidupkan mesin mengingat jarak bergerak saat macet yang kecil.

Permasalahan selanjutnya adalah cara untuk menanggulangi permasalahan terkait kuantitas. Kita tau bersama kalau masyarakat Indonesia rata rata menggunakan kendaraan seperti mobil ataupun bus untuk bepergian jarak jauh karena memiliki mobilitas yang baik dan kapasitas penumpang yang terbilang banyak. Penggunaan bus adalah hal yang efisien, karena bus memiliki kapasitas yang banyak dan penggunaan bensin yang efisien. Bayangkan saja ada satu orang akan bepergian jauh seorang diri dengan menggunakan mobil, mobil tersebut akan menghasilkan emisi untuk satu orang dan keperluan yang terpenuhi hanya untuk satu orang dibandingkan jika ada satu bus yang bisa menampung semisal 10 orang penumpang dan bepergian sekali jalan untuk sepuluh orang tersebut. Dari pemisalan tersebut saya ingin mengatakan bahwa bus lebih efisien digunakan dibanding penggunaan mobil pribadi untuk bepergian jauh seorang diri, bukannya saya menutup hak untuk memiliki privasi, tapi menurut saya bus memiliki efisiensi yang lebih baik. 

Solusi lainnya untuk masalah kuantitas adalah perubahan tipe kendaraan massal secara perlahan. Banyak tipe kendaraan massal yang sedang beredar dan berkembang seperti angkutan umum, bus atupun kereta api. Tapi yang ingin saya jadikan solusi adalah penggunaan kereta api sebagai alternatif kendaraan massal. Berdasarkan data dari Kompas, kereta api hanya menghasilkan 41 gram emisi karbon dioksida per kilometernya. Menurutku 41gram emisi setiap kilometer adalah angka yang sangat kecil dan bisa dipertimbangkan mengingat kereta api adalah kendaraan massal dengan kecepatan tinggi dan jarak tempuh yang jauh. Jika kereta api dijadikan Transportasi sehari hari pasti penggunaan kendaraan pribadi seperti mobil juga akan berkurang secara perlahan dengan harapan bisa mencapai penggunaan karbon yang minimum. Walau perubahannya secara perlahan, setidaknya ada pemangkasan emisi karbon dioksida setiap tahunnya yang bisa kita rasakan.

Baca juga : 35 Tahun Mengabdi, Bambang: Birokrat Dengan Segudang Prestasi

Mempertimbangkan semua fakta fakta di atas, saya bisa menarik kesimpulan bahwa pemangkasan emisi karbon dioksida bisa dicapai ketika kita bisa memanipulasi faktor waktu penggunaan kendaraan dan kuantitas kendaraan yang digunakan. Perubahan cara berpikir rakyat Indonesia dalam memilih transportasi seperti kereta api atau bus untuk kebutuhan bepergian jarak jauh harus terus ditingkatkan, efisiensi dari penggunaan kedua transportasi tersebut nyata dan sangat dirasakan. Pengendara di Indonesia juga harus bijak dalam berkendara, jangan biarkan bensin terbuang sia sia ketika sedang terjebak dalam kemacetan. Hendaknya masyarakat Indonesia terus meningkatkan kepeduliannya terkait emisi karbon dioksida ketika berkendara dan memilih transportasi.

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense