RM.id Rakyat Merdeka - Belakangan, Kabupaten Bogor kerap diguncang gempa. Hasil monitoring Pusat Gempa Regional (PGR) II pada 6-18 Desember 2023 pukul 08.00 WIB menunjukkan adanya 85 kejadian gempa. Enam di antaranya, dirasakan oleh masyarakat.
Gempa tersebut didominasi gempa dangkal berkedalaman 3 - 26 km, dengan magnitudo 1,7 hingga 4,6.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, gempa Bogor dapat dikategorikan sebagai gempa swarm yang dipicu aktivitas sesar aktif.
Baca juga : BEM UI Tegaskan Akan Terus Suarakan Penolakan Politik Dinasti
Gempa swarm merupakan aktivitas gempa, tanpa ada gempa utama (mainshock), dengan magnitudo relatif kecil. Namun, memiliki frekuensi kejadian yang cukup tinggi.
Meski magnitudonya relatif kecil, gempa swarm dapat menyebabkan kerusakan pada bangunan maupun struktur tanah. Terutama, pada kawasan rawan longsor. Mengingat frekuensi kejadiannya yang cukup tinggi.
Hasil survei Stasiun Geofisika Sukabumi mendeteksi adanya kerusakan bangunan di Kecamatan Pamijahan dan Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Bogor.
Baca juga : Perusahaan Penjamin Beri Kontribusi Besar
Kerusakan bangunan akibat gempa Bogor, umumnya disebabkan oleh kualitas bangunan dan lokasi bangunan, yang berada di daerah kemiringan.
Selain itu, juga ditemukan retakan tanah di Desa Cipeteuy, Kecamatan Kabandungan. Kabupaten Bogor.
Retakan tanah ini sesuai dengan lereng yang berpotensi longsor.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.