RM.id Rakyat Merdeka - Teknologi digital telah mengubah lanskap industri jurnalisme kontemporer secara transversal dalam proses produksi hingga distribusi berita. Salah satu inovasi terbaru adalah kehadiran teknologi artificial intelligence (kecerdasan artifisial) di organisasi berita. Meskipun belum masif diterapkan di Indonesia, teknologi ini memiliki potensi radikal yang bisa dialami industri jurnalisme secara keseluruhan, tidak hanya memengaruhi model bisnis semata, tetapi juga peran dan rutinitas profesional industri media massa.
Selama hampir dua dekade terakhir, ketika perusahaan teknologi seperti Apple, Google, Meta, dan Microsoft berkembang menjadi perusahaan paling prestise di dunia, banyak perusahaan media di Amerika Serikat harus tutup, sehingga hampir dua pertiga dari total keseluruhan jurnalis surat kabar kehilangan pekerjaannya. Begitu juga di Indonesia, kehadiran internet juga berdampak pada surutnya industri surat kabar cetak. Bahkan, sejumlah pers cetak menghentikan penerbitan cetaknya, dan beralih menjadi media online yang dalam operasionalisasinya menggunakan teknologi digital.
Peluncuran ChatGPT dari OpenAI pada November 2022, misalnya, telah membawa terobosan baru dalam industri media massa. Kehadirannya menghadirkan aneka kegembiraan, ketakutan, hingga perdebatan etika. Bagi utopian views, kehadirannya dianggap sebuah berkah. Mereka memandang kecerdasan artifisial sebagai peluang untuk memproduksi berita lebih cepat dalam berbagai bahasa sehingga bisa diakses pembaca mancanegara dalam jumlah yang banyak. Sedangkan bagi dystopian views, kecerdasan artifisial dianggap sebagai pengganggu jurnalisme. Mereka mengkhawatirkan profesi jurnalis akan hilang, digantikan kecerdasan artifisial yang dinilai berpotensi menghilangkan sisi kemanusiaan, kreativitas profesi, serta meniadakan proses keterampilan menulis secara alami.
Baca juga : Erick Thohir Puji Kualitas Pemain Pelapis Timnas Indonesia
Berbagai media seperti The Guardian, The Washington Post, Reuters, Associated Press, News Corp telah menggunakan kecerdasan artifisial dalam menghasilkan berita-berita untuk disiarkan kepada khalayak. Algoritma memutuskan item apa yang akan ditampilkan di berita media, itulah yang disebut automated media. Algoritma komputer dianggap karyawan baru dalam industri media yang secara mandiri memproduksi konten jurnalistik (Wölker & Powell, 2021). Media-media tersebut telah memanfaatkan kecerdasan artifisial dalam memberitakan ramalan cuaca, laporan keuangan, hingga berita olahraga. Para redaktur di media tersebut mengakui bahwa berita yang dihasilkan kecerdasan artifisial lebih teliti dan komprehensif dibandingkan berita buatan reporter manusia.
Hal ini kemudian memicu kekhawatiran terkait masa depan jurnalisme termasuk di Indonesia. Kekhawatiran itu antara lain apakah konten yang dihasilkan kecerdasan artifisial akan digunakan sebagai alat untuk membantu jurnalis, atau apakah pada akhirnya akan menggantikan jurnalis dalam pekerjaan mereka sehari-hari mengingat jumlah jurnalis di Indonesia yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Beberapa juga mengkhawatirkan kualitas konten yang dihasilkan oleh kecerdasan artifisial. Apakah kualitas konten akan menurun atau sebaliknya, bermutu tinggi setelah industri pers menerapkan penggunaan kecerdasan artifisial? Sebuah pertanyaan yang menjadi perkerjaan rumah pelaku industri media massa.
Dari 235 ribu jurnalis di Indonesia (Dewan Pers, 2023), baru sekitar 28.000 yang dinyatakan memiliki kompetensi sebagai jurnalis profesional. Dari jumlah tersebut, tentu mereka belum sepenuhnya bisa menggunakan teknologi kecerdasan artifisial secara maksimal, mengingat sebagian besar mereka adalah jurnalis yang bekerja di media online tanpa menggunakan kecerdasan artifisial sebagai alat bantu memproduksi konten media. Pelatihan-pelatihan di media online sejauh ini belum banyak diterapkan untuk memahami penggunaan kecerdasan artifisial. Disrupsi inilah yang menjadi tantangan bagi industri jurnalisme sekarang ini.
Baca juga : Alat Pengencangan Wajah Berbasis AI Resmi Hadir di Indonesia
Perbedaan latar belakang pendidikan, kemampuan finansial perusahaan, budaya kerja jurnalis, budaya organisasi media, dan keahlian jurnalis di Indonesia juga tidak sama. Penerapan penuh teknologi kecerdasan artifisial di industri jurnalisme ke depan dimungkinkan bila sejumlah persyaratan sebagaimana diuraikan telah dipenuhi oleh perusahaan media. Bila itu terpenuhi, maka penggunaan kecerdasan artifisial dalam industri media massa di Indonesia, sesungguhnya adalah suatu keniscayaan.
Oleh: Haresti Asysy Amrihani
Penulis adalah Mahasiswa Program Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, Peneliti, Wakil Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DKI Jakarta 2024-2029, Pengurus Asosiasi Penerbit Jurnal Ilmu Komunikasi (APJIKI) 2023-2026
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.