RM.id Rakyat Merdeka - Forum Dosen Universitas Az-Zahra angkat bicara terkait adanya keraguan keabsahan gelar Guru Besar yang disematkan kepada Wakil Ketua DPR dari Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad.
Ketua Umum Forum Dosen Az-Zahra, Hamdan Nugroho mengungkapkan, Dasco telah mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan di Indonesia. Tercatat, Dasco pernah mengajar di Universitas Az-Zahra Jakarta, Fakultas Ilmu Hukum pda periode 2016 hingga 2018.
“Saya menyatakan bahwa Dasco benar telah mengajar di Kampus Universitas Az-Zahra,” ujar Hamdan dalam keterangannya Sabtu (13/7)
Hamdan menuturkan, dukungan dari Forum Dosen Az-Zahra ini untuk menegaskan, kepada publik bahwa Dasco telah mendedikasikan pengabdiannya di lingkungan kampus Az-Zahra.
Baca juga : Soal Status Profesor, Forum Dosen Universitas Az-Zahra Bela Sufmi Dasco Ahmad
“Forum Dosen Universitas Az-Zahra memastikan status tersebut, sebagai wujud kepedulian kepada Dasco, yang merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari keluarga kami. Sebagai insan yang pernah mengabdi di Civitas Akademika Universitas Az-Zahra,” ujarnya.
Kode Etik Jurnalis
Senada dikatakan Hamdan, pendiri Haidar Alwi Institute (HAI), R Haidar Alwi ikut menyayangkan podcast media nasional yang meragukan keabsahan guru besar Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad.
Haidar menjelaskan, podcast terkait menyebut ada kejanggalan dalam salah satu jurnal internasional Dasco sebagai syarat menjadi guru besar. Jurnal Dasco itu dipublikasikan oleh Ayer Journal asal Spanyol Tahun 2020 Volume 27 Nomor 4. Sedangkan dalam website resmi Ayer Journal, tahun 2020 hanya ada Volume 117, 118, 119 dan 120. Tidak ada volume 27.
Baca juga : Gelar Indonesia Investment Forum, Investasi Jepang Ke RI Meningkat
"Seharusnya dilakukan uji informasi, konfirmasi dan verifikasi terkait perbedaan yang ditemukan. Seperti uji informasi terhadap jurnal Reda Manthovani dan Siti Nur Azizah, medianya bisa menghubungi pihak jurnal di India dan Malaysia bahkan sampai datang langsung ke Inggris. Kenapa informasi jurnal Dasco tidak diuji juga? Padahal bisa berkirim e-mail ke Ayer Journal atau datang langsung ke Spanyol," tanya Haidar.
Ia yakin, Ayer Journal Tahun 2020 Volume 27 bukanlah imajinasi Dasco semata yang sengaja dikarang-karang untuk menjadi profesor atau guru besar. Sebab, Ia menemukan setidaknya ada tujuh jurnal lainnya dari Indonesia yang juga diklaim sejumlah peneliti dimuat dalam Ayer Journal Tahun 2020 Volume 27.
Haidar mengingatkan, terkait Pasal 3 Kode etik jurnalistik yang terkait pengujian informasi dan pemberitaan yang berimbang.
"Di sini pentingnya uji informasi, konfirmasi dan verifikasi supaya tidak terburu-buru menilai apalagi menghakimi yang dapat merugikan pihak lain. Mana tahu ada suatu kondisi disclaimer kebijakan internal Ayer Journal yang tidak diketahui karena keterbatasan bahasa (Spanyol) maupun informasi yang dapat diperoleh," pungkasnya.
Baca juga : GovTech Indonesia Segera Diluncurkan, Peruri Siap Kawal Transformasi Digital
Sufmi Dasco mulai mengajar sejak tahun 2010 saat aktivitas politiknya belum terlalu padat. Saat menjabat sebagai Wakil Ketua DPR pun, Dasco tidak meninggalkan aktivitas mengajar nya, bahkan kerap berinovasi melalui team teaching dan mengajar lewat daring.
Sementara Ketua Umum Relawan Muda Prabowo Bepro, Lutfi Dipa mengaku, prihatin dengan isu yang mempertanyakan gelar Guru Besar, Dasco di dunia Pendidikan.
“Bicara soal sepak terjang di dunia pendidikan rasanya tidak perlu diperdebatKan, buat kami bang Dasco sosok inspiratif yang memang layak dianugrahkan Guru Besar," tegasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.