RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah diminta memperketat pengawasan terhadap pasokan dan distribusi MinyaKita di tengah masyarakat. Pasalnya, kenaikan Harga Eceran Tertinggi (HET) MinyaKita berpotensi memicu terjadinya kelangkaan dan menggangu rantai pasokan.
Ketua DPR Puan Maharani mengungkapkan, pihaknya menemukan kasus kenaikan harga dan kelangkaan MinyaKita di sejumlah daerah, sebelum Kementerian perdagangan (Kemendag) melempar wacana menaikan HET MinyaKita dari Rp 14.000 menjadi Rp 15.700.
Sebab itu, dia meminta Kemendag segera memastikan kenaikan HET MinyaKita dan menindaklanjuti keputusan itu dengan melakukan pengawasan terhadap pasokan, jalur distribusi, hingga konsumsi di tengah masyarakat.
Dengan begitu, kenaikan HET tak membuat MinyaKita semakin mahal dan langka di pasaran.
Baca juga : Israel Sudah Keterlaluan
“Ada beberapa temuan yang didapat DPR, termasuk soal distribusi MinyaKita yang menurut kami pengawasan distribusinya perlu diperketat dan dioptimalkan. Ini harus jadi catatan Pemerintah, karena selain adanya kenaikan harga sebelum pengumuman, kelangkaan minyak goreng subsidi terjadi di pasaran,” ujar Puan melalui keterangan tertulisnya, Jumat (19/7/2024).
Diketahui, Pemerintah telah menaikkan HET MinyaKita menjadi Rp 15.700 per liter, yang akan mulai berlaku pada pekan ini. Penyesuaian HET MinyaKita di tingkat konsumen menunggu penerbitan revisi Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 49 Tahun 2022, yang mengatur HET minyak goreng subsidi seharga Rp 14.000 per liter atau Rp 15.500 per kilogram.
Awalnya, HET MinyaKita diusulkan sebesar Rp 15.500 per liter. Namun, masalah nilai tukat dolar Amerika Serikat (AS) memaksa pemerintah mengambil opsi lain, menaikan HET MinyaKita menjadi Rp 15.700 per liter.
Melanjutkan keterangannya, Puan menyatakan, masyarakat mulai mengeluhkan terjadinya kelangkaan produk MinyaKita di pasaran, sejak adanya informasi kenaikan HET MinyaKita.
Baca juga : Lelang Impor Beras Bulog Transparan
Menurutnya, minyak goreng subsidi pemerintah ini mulai sulit didapatkan di pasaran, dan DPR telah melakukan berbagai upaya pengawasan untuk mengatasi kelangkaan tersebut.
“MinyaKita banyak dijual Rp 16 ribu per liter sebelum adanya kenaikan harga. Menurut pedagang, kenaikan harga jual MinyaKita terjadi karena mereka juga mendapat dengan harga yang sudah naik. Bahkan, ada pedagang yang mengatakan kenaikan terjadi sejak Idul Fitri lalu,” ungkap politisi PDI Perjuangan ini.
Selain naik, sambung Puan, para pedagang juga mengaku sulit mendapatkan pasokan MinyaKita dari distributor. Diduga, hal tersebut terjadi lantaran masalah harga, penimbunan dan penyelewengan minyak goreng oleh oknum-oknum tertentu, sehingga kelangkaan MinyaKita semakin parah.
Menurutnya, DPR akan terus memantau masalah kelangkaan minyak goreng subsidi di pasaran. DPR juga mendorong pemerintah melakukan langkah penanggulangan kelangkaan MinyaKita secepat mungkin, termasuk mengatasi dugaan penimbunan dan penyelewengan minyak goreng bersubsidi yang merugikan masyarakat.
Baca juga : Heru Janji Kasih Upah Yang Layak
Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menegaskan, keputusan Pemerintah menaikkan HET MinyaKita merupakan kebijakan tidak pro rakyat.
Menurut dia, kenaikan tersebut sangat kontradiktif dengan status Indonesia sebagai eksportir terbesar minyak sawit mentah untuk bahan minyak goreng.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.