BREAKING NEWS
 

Terima Ratusan Laporan

Kemenkes Bakal Usut Tuntas Kasus Bullying

Reporter : SUSILO YEKTI
Editor : ABDUL SHOMAD
Kamis, 5 September 2024 07:25 WIB
Pelaksana Tugas Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi di Gedung DPR RI Jakarta, Selasa (3/9/2024). (FOTO: ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari)

 Sebelumnya 
Diketahui, ARL ditemukan meninggal bunuh diri di ka­mar kontrakannya pada akhir Agustus lalu. ARL merupakan siswa PPDS Undip di RS Kariadi Semarang.

Dari hasil investigasi Kemenkes, ditemukan ada dugaan indikasi pemalakan kepada almarhumah sebesar Rp 40 juta per bulan yang dilakukan sejumlah dokter senior. Permintaan ini berlangsung sejak almarhumah masih di semester 1 pendidikan atau sekitar Juli hingga November 2022. Faktor itulah yang diduga menjadi pemicu awal almarhumah mengalami tekanan dalam pembelajaran.

Melanjutkan keterangan­nya, Suharnomo menyampaikan bahwa kasus dugaan perundun­gan yang menimpa ARL akan menjadi bahan evaluasi bersama. Menurutnya, sekarang bukan saat yang tepat untuk saling menyalahkan.

Baca juga : Kades Dilarang Ikutan Kampanyekan Cakada

“Kami berharap peristiwa ini menjadi momentum evaluasi bersama. Tidak bijaksana kalau peristiwa ini menjadi wacana dan polemik serta perdebatan semata. Jangan pula menjadi bahan untuk menyalahkan satu dan lainnya,” ujarnya.

Dia juga mengajak semua pi­hak berkolaborasi demi mencari solusi atas masalah yang ada. Pihaknya terbuka dan kooperatif terhadap hal tersebut.

Di media sosial X, kasus pe­rundungan di lingkungan RS juga mendapat perhatian dari netizen.

Baca juga : Bahas Tatib Pemilihan Ketua, Paripurna DPD Hujan Interupsi

“(Selain di Semarang), di Jakarta juga banyak yang be­gini (perundungan dokter). Tapi siapa yang mau mengusut? Sedangkan ini seperti sudah menjadi kebiasaan bagi calon dokter spesialis ataupun dokter magang di RSUD dan parahnya meninggalnya almarhum pun tetap jadi ejekan begini: ‘Dokter sekarang lemah, ga kayak dok­ter-dokter dulu’,” ujar akun @PakarINTELek.

“Dahulu kita tahu STPDN yang sekarang berubah jadi IPDN ada kasus perundungan. Tapi, saat itu setelah ada praja yang meninggal karena perundungan pas ospek, kini sudah nggak kedengeran lagi ada kasus perundungan di IPDN. Mungkin memang sudah harus di hentikan ‘politik’ senioritas yang meresahkan ini. Nggak nambah ilmu malah nambah dendam! Semua kasus perundungan wajib diusut tuntas,” timpal akun @aasamidri.

Sementara, akun @Sujiant26802647 meminta Kemenkes menjatuhkan sanksi keras kepada semua dokter yang terlibat perundungan kepada juniornya.

Baca juga : Kinerja PP Dan WIKA Harus Sehat Dulu

“Saya sangat mendukung sanksi berat. Sangat-sangat men­dukung. Biar ada efek jera in­clude proses pidananya. Seperti pencabutan Surat Izin Praktik (SIP) dan Surat Tanda Registrasi (STR),” cuitnya.

Akun @imanchakra menye­but, budaya senioritas saat ini sudah salah kaprah. Dahulu senioritas diartikan untuk mem­bimbing, melindungi dan men­gayomi junior. Tapi, saat ini senioritas justru diartikan untuk memeras, melecehkan hingga menjegal junior.

Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Kamis, 5 September 2024 dengan judul Terima Ratusan Laporan, Kemenkes Bakal Usut Tuntas Kasus Bullying

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense