RM.id Rakyat Merdeka - Ketua Presidium JARI 98 Willy Prakarsa menyatakan, institusi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) belakangan ini jadi sorotan. Banyak isu yang tidak benar yang menyasar Polri. Dari mulai Partai Cokelat hingga kesalahan dibuat oleh oknum Polri yang memperburuk citra institusi.
"Katakanlah ada 500.000 ribu anggotanya. Mana bisa jadi partai yang menenangkan pertarungan di mana-mana. Polri milik negara dan diatur oleh Undang-Undang. Ini tuduhan tendensius tak berdasar," kata Willy.
Hal itu diungkapkan saat Podcast bertajuk Polisi Dibenci (Sesaat) Tapi Dirindu (Selamanya), Mewujudkan Asta Cita Pemerintah Menuju Indonesia Emas 2045 oleh Koma Indonesia, Jumat (13/12/2024).
Willy menilai, isu yang menyudutkan Polri ini dihembuskan oleh sebagian kecil oknum. Satu dua pihak menggoreng isu, dan mengatasnamakan serta mengajak masyarakat, khususnya netizen, untuk ikut dalam genderang membusukkan institusi Polri.
Baca juga : Tiko Tidak Mau Gantikan Ashraf
"Misalnya soal Pilkada, saat menang tidak teriak. Saat kalah ngajak rakyat seolah semua kesalahan ditimpakan ke Polri," sindirnya.
Terlebih, pihak tersebut mengalamatkan kesalahan kepada Kapolri Listyo Sigit Prabowo. "Khususnya aktivis demokrasi dan HAM. Bikin banyak orang salah kaprah, kalau ada peristiwa, yang disalahkan selalu Kapolri. Tetapi itu salah alamat," ujarnya.
Namun, dia yakin, publik tak menyambut isu yang menyudutkan institusi Polri dan Kapolri. Apalagi Presiden Prabowo Subianto mempertahankan dan tetap percaya kepada Listyo.
"Kenapa nggak diganti oleh Pak Prabowo. Karena Pak Prabowo punya tim khusus yang tahu kualitas Kapolri Listyo Sigit Prabowo. Sehingga masih dipakai," ujarnya.
Baca juga : Pengamat: Pram-Doel Sulit Menang Kalau Cuma Andalkan King Makers
Dikatakan, publik melihat rekam jejak dan prestasi Listyo Sigit selama jadi Kapolri amat positif. Kapolri aktif menjaga kondusifitas saat Pandemi Covid-19. Sosok ini juga diterima oleh semua kalangan karena membawa nilai kebhinnekaan dan memelihara keharmonisan.
Meski dari minoritas, Kapolri dihormati tokoh besar, kiai dan, ulama mayoritas. Sosok Listyo juga merangkul kalangan bawah, anak jalanan, santri, mahasiswa dan kelompok lainnya.
"Maka saya lihat, rakyat tidak menyambut isu pencopotan ini. Karena Kapolri sekarang ini mau turun langsung merangkul dan humanis dengan rakyat. Pak Prabowo, Mas Gibran melihat prestasi itu. Maka dipertahankan. Kapolri sosok loyal, pancasilais, setia terhadap UUD 45," ungkapnya.
Dia pun yakin Listyo mampu menerjemahkan dan mengawal program Asta Cita Prabowo-Gibran untuk mencapai Indonesia Emas 2045. "Karena Pak Listyo Akpol 91, maka saya 91 persen, sangat yakin Pak Listyo mampu," ujarnya.
Baca juga : DPR Bakal Lakukan Kajian
Soal Polri di bawah TNI dan Kemendagri, menurut Willy, jelas tidak perlu. Publik pun enggan mengamini wacana ini. Bahwa ada yang keliru jajarannya di bawah, kata Willly, Kapolri sudah tegas, perbaikan institusi Polri juga terus dilakukan. Slogan Presisi juga dijalankan.
Masyarakat ini ingin, jangan sampai justru setback mengkhianati amanat reformasi yang meminta Polri dipisah dari TNI.
"Mari Polri yang sudah the best di bawah Pak Listyo ini, terus sinergi bersama rakyat. Terus jaga persatuan dan kesatuan, dan menjaga kondusifitas," pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.