RM.id Rakyat Merdeka - Minggu (19/1/2025) pagi, Rakyat Merdeka mendatangi pagar laut di perairan Tangerang. Tepatnya, di Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang, Banten. Sehari sebelumnya, di lokasi ini, TNI AL dibantu warga melakukan pembongkaran terhadap pagar laut yang berasal dari bambu.
Saat Rakyat Merdeka tiba, suasana di lokasi sepi. Belasan perahu nelayan berjejer rapih di pasar pelelangan. Alat-alat berat yang sebelumnya digunakan TNI AL untuk membongkar pagar laut, juga tak beroperasi.
Sanin, pria yang berprofesi sebagai nelayan, hanya mengisi paginya dengan duduk bersandar di pinggir pantai. Perahu kecil yang biasa dipake untuk melaut, dibiarkannya terombang-ambing dimainkan ombak yang cukup deras. Bagian depan perahu diikatkan pada kayu, agar tidak terbawa gelombang.
Nggak melaut Pak? “Ini lagi angin utara, kita nggak bisa melaut karena ombaknya terlalu kencang,” jawab Sanin saat berbincang dengan Rakyat Merdeka.
Baca juga : Dijadwalkan Pukul 08.30, Baru Dilaksanakan 11.15
Pria yang berprofesi sebagai pencari ikan sejak tahun 1984 ini lantas menceritakan soal pagar laut. Sanin bercerita, kondisi laut di Tanjung Pasir belakangan ini membuatnya harus lebih bersabar. Dia bersama nelayan lain merasa dirugikan dengan keberadaan pagar laut yang ditanam sekitar 2 tahun lalu.
Kok bisa? Sebab, sejak ada pagar laut, rute melaut yang selama berpuluh tahun dilaluinya, menjadi lebih jauh. Karena harus menempuh jarak yang lebih jauh, tentunya bahan bakar yang biasa digunakan untuk melaut harus bertambah.
“Misalnya dari Tanjung Pasir mau ke Tanjung Burung, jadi muter. Itu ngabisin solar sampai 5 liter,” ungkap Sanin.
Tak hanya bikin bahan bakar tekor, kata Sanin, pagar sepanjang 30 km yang tertanam dari Tanjung Pasir hingga Kronjo itu juga mengancam keselamatan nelayan. Sebab, pagar tersebut rentan tertabrak perahu nelayan saat sedang aktivitas mencari ikan. Apalagi, mayoritas nelayan biasanya pergi melaut sejak dini hari.
Baca juga : Kaka Suminta: Masih Ada Tarik Menarik Di DPR
“Coba kalau nerajang (nabrak) pagar, pasti rusak itu kapal-kapal yang dari viber. Nelayan pernah nabrak,” ungkap pria 55 tahun itu.
Untuk diketahui, pagar tersebut memiliki lebar 1 hingga 2 meter dengan paranet di atasnya. Total panjang bambunya mencapai 6 meter. Rinciannya, 3 meter menancap di dasar laut, sisanya menjulang ke permukaan.
Sanin membantah pagar itu ditanam oleh para nelayan. Justru, kata dia, para nelayan merasa dirugikan karena keberadaan pagar tersebut. Makanya, ketika pagar bambu itu mulai dibongkar, Sanin bersama nelayan lain sangat happy dan ikut membantu proses pembongkaran.
“Itu para nelayan, ibu-ibu, anak-anak pada bantu bapak-bapak TNI. Kita mah girang banget pokoknya kalau pagar itu dibongkar,” tutur Sanin, antusias.
Baca juga : Ahmad Doli Kurnia Tandjung: Perbaikan Sistem Harus Dikonkretkan
Kenapa tidak dicabut saja dari dulu? Sebagai nelayan kecil, Sanin mengaku tidak berani begitu saja mencabut bambu-bambu tersebut. Meskipun terganggu, Sanin takut bila coba mencabut, nanti bisa terkena masalah hukum.
“Masyarakat mana berani kalau nggak ada yang duluin. Namanya kita masyarakat kecil,” tuturnya.
Selain tak ada aktivitas nelayan, suasana perairan juga sepi Padahal sehari sebelumnya, ratusan TNI AL bersama warga, sibuk mencopoti pagar bambu.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.