RM.id Rakyat Merdeka - Nelayan China masih wara-wiri di Laut Natuna meski pemerintah sudah melayangkan protes keras. Nelayan China tak ciut nyalinya padahal 2 kapal perang kita sudah disiagakan. Bahkan, akan ada 4 kapal perang lagi yang akan dikerahkan untuk mengusir orang-orang China itu. Di twitter, warganet memberi dukungan ke pemerintah untuk mengusir mereka dengan menggaungkan tagar #natunabukannacina.
Hingga kemarin sore, sejumlah kapal nelayan China masih melaut di wilayah perairan Zona Ekonomi Ekskluif (ZEE) Natuna. Kapal-kapal itu anteng menangkap ikan lantaran dikawal dua kapal penjaga pantai China atau China Coast Guard (CCG) dan satu kapal pengawas perikanan.
Dari pantauan udara dari Badan Keamanan Laut (Bakamla), China kemudian mendatangkan lagi dua kapal penjaga pantai untuk mengawal nelayan mereka. Jadi, totalnya ada 5 kapal. Tiga kapal berada di zona ZEE, dua kapal di luar wilayah ZEE.
TNI tak tinggal diam. Sejak Jumat, Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) I TNI, Laksamana Madya Yudo Margono, sudah menetapkan status Siaga 1. Artinya, prajurit sudah dalam kondisi siap tempur.
Yudo juga menyiapkan 18 operasi tempur, baik darat, laut, maupun udara, untuk merespons kapal penjaga pantai China. Sejumlah alutsista juga diterjunkan untuk mendukung operasi tersebut. Antara lain tiga KRI, satu pesawat intai, dan satu pesawat Boeing TNI AU.
Baca juga : Kilang Pertamina Luncurkan Bahan Bakar Kapal Sulfur Rendah
Yudo mengatakan, kapal-kapal nelayan dari China itu bersikukuh menangkap ikan secara legal yang berjarak sekitar 130 mil dari perairan Ranai, Natuna. Kapal-kapal itu tak mau pergi meski diusir. Mereka merasa aman karena dikawal kapal penjaga pantai China.
TNI sudah menurunkan dua KRI guna mengusir kapal China tersebut ke luar dari Laut Natuna. Kapa-lkapal Coast Guard China juga diusir.
“Kami juga gencar berkomunikasi secara aktif dengan kapal penjaga pantai China agar dengan sendirinya segera meninggalkan perairan tersebut,” kata Yudo, dalam konferensi pers di Pangkalan Udara TNI AL, di Tanjung Pinang, Kepri, kemarin.
Karena kapal nelayan belum juga hengkang, Yudo memastikan akan menambah kekuatan dengan menambah empat KRI. Jadi, total ada 6 KRI yang beroperasi di perairan utara Natuna.
Namun, sampai saat ini, tindakan yang di lakukan TNI masih bersifat persuasif: memperingati kapal China bahwa mereka sudah menerobos sekaligus menangkap ikan secara ilegal di Laut Natuna.
Baca juga : Bayar Bioskop Pakai GoPay Cashback 30 Persen
Menko Polhukam, Mahfud MD, menegaskan, pemerintah tidak akan mengambil jalur negosiasi dalam kasus Natuna. Sebab, negosiasi sama saja dengan mengakui ada sengketa di wilayah tersebut. Padahal, secara hukum, wilayah itu jelas milik Indonesia.
Kata Mahfud, sikap pemerintah tegas: mengusir kapal asing yang masuk perairan Natuna. Pemerintah juga sudah mempersiapkan pasukan untuk di kerahkan ke perairan Natuna.
“Apa pun yang kita miliki, harus kita gunakan untuk menjaga kedaulatan kita,” ucap Mahfud, usai menghadiri peringatan acara Dies Natalis Universi tas Brawijaya di Malang, kemarin.
Mantan Ketua MK ini menjelaskan, TNI sudah memperketat patroli untuk menghalau kapal asal China. “Kita tidak berperang, ya. Kita menghalau untuk menjaga kedaulatan kita sendiri,” ungkapnya.
Mantan Kepala BIN, AM Hendropiyono, menilai, ada dua tantangan yang harus dihadapi pemerintah dalam menyelesaikan persoalan perairan Natuna. Pertama, pemerintah harus bisa mengamankan kepentingan nasional. Kedua, pemerintah harus bisa menghindari risiko perang.
Baca juga : Munas Seknas Jokowi, Ketua DKI Jakarta Siap Bertarung
“Karena itu, pemerintah akan memperkuat Bakamla daripada mengerahkan TNI AL,” kata Hendropri yono, kepada wartawan, kemarin.
Hendropriyono beranggapan, pengerahan TNI AL ke perairan Natuna hanyalah unjuk kekuatan militer. Hal itu perlu dilakukan agar Indonesia tidak diremehkan negara lain. “Briefing di kapal perang dan pengerahan TNI AL diperlukan untuk show of force kita saja, agar tidak mudah dilecehkan siapa pun,” ujarnya.
Di dunia maya, para warganet mendorong pemerintah bersikap tegas dan berani ke China. Mereka melakukannya dengan menggaungkan tagar #NatunaBukanNacina.
“1) Kita jaga persahabatan antar bangsa. 2) Kita undang investor untuk investasi. Kita jaga investor. 3) Kita akan tetap menghukum pencuri sumber daya perikanan kita. Bedakan 3 hal itu dengan baik dan benar,” cuit mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti.
“No caplok caplokkan. Semua punya teritorial masing². Mencaplok berarti menjajah. Kita anti penjajajahan. #Na tunaBukanNacina,” timpal @cinna mon_irish “KEDAULATAN NKRI HARGA MATI !!! #NatunaBukanNacina. Jangan mengulang peristiwa terdahulu, saat pulau Simpadan dan Ligitan harus lepas,” cuit @965269531KLBg33. [BCG]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.