BREAKING NEWS
 

Kerap Libatkan Anak-anak Dan Remaja

Laka Lantas Roda 2 Harus Dapat Perhatian Serius

Reporter : SUSILO YEKTI
Editor : ABDUL SHOMAD
Minggu, 16 Maret 2025 07:25 WIB
Pengamat Transportasi Universitas Indonesia (UI), Tri Tjahjono. (Foto: Dok. Pribadi)

RM.id  Rakyat Merdeka - Tingginya angka kecelakaan lalu lintas (laka lantas) sepeda motor harus mendapat perhatian serius dari Pemerintah. Terlebih, kecelakaan tersebut kerap melibatkan anak-anak dan remaja.

Pengamat Transportasi Universitas Indonesia (UI), Tri Tjahjono, menerangkan bahwa sepeda motor menjadi penyumbang terbesar angka kecelakaan lalu lintas (laka lantas) di dunia, termasuk Indonesia. Berdasarkan data Pusiknas Bareskrim Polri, urai dia, dari 722.470 unit kendaraan yang mengalami kecelakaan pada periode 1 Januari-5 Agustus 2024, sebanyak 552.155 atau 76,42 persen adalah sepeda motor.

Ironisnya, berdasarkan catatan UNICEF di 2022, usia 10-19 tahun menjadi penyumbang paling besar terhadap laka lantas yang menggunakan kendaraan roda dua di dunia. “Keniscayaan penggunaan sepeda motor yang sangat mengerikan, kelompok anak-anak yang menggunakan sepeda motor,” ujar Tri, dalam keterangannya, dikutip Sabtu (15/3/2025).

Menurutnya, ada dua isu yang patut diselesaikan dari tingginya angka kecelakaan sepeda motor di Indonesia. Pertama, soal tertib umur dalam menggunakan sepeda motor.

“Sebab, data UNICEF 2022 menyebut, sebanyak 30 persen kasus meninggal dunia akibat kecelakaan adalah anak di usia 10-19 tahun. Sebagian besar, pengguna sepeda motor dan tidak punya SIM,” jelasnya.

Baca juga : Pembayaran Transaksi Makin Praktis & Cepat

Kedua, belum membudayanya kebiasaan menggunakan helm, baik oleh pengendara maupun penumpang anak-anak. Hal itu menjadi Pekerjaan Rumah (PR) yang harus diselesaikan.

“Termasuk, membudayakan mengunci helm saat dikenakan. Sebab, kebiasaan tidak mengunci helm akan berakibat fatal, ketika terjadi kecelakaan lalu lintas. Helm akan terlepas, jika talinya tidak mengunci,” imbuhnya.

Tri juga mendorong industri dalam negeri terus berinovasi, dengan menyediakan helm yang layak bagi pengendara dan penumpang anak-anak. Helm yang beredar di pasaran perlu dicek secara cermat. Sebab, banyak pedagang yang mengklaim helm yang dijualnya berstandar SNI, tapi jauh dari kualitas sebenarnya.

Adsense

“Ini juga sangat membahayakan bagi masyarakat saat berkendara dengan roda dua. Soal helm berstandar SNI, saya kerap curiga, apakah helm yang di jual benar-benar SNI atau ditempel SNI. Kalau kita membiarkan SNI itu beredar, SNI ilegal akan menjatuhkan istilah SNI,” tuturnya.

Direktur Keamanan dan Keselamatan (Dirkamsel) Korlantas Polri, Brigjen Pol Bakharuddin Muhammad Syah mengamini, angka kecelakaan lalu lintas masih cukup tinggi di Indonesia, dan roda dua menjadi penyumbang data terbesar. “Hal ini menjadi perhatian besar Korlantas Polri dalam upaya meningkatkan keselamatan berlalu lintas,” ujarnya.

Baca juga : Stok & Harga Pangan Stabil

Selain terus mengingatkan masyarakat agar tidak membiarkan anak-anak dan remajanya di bawah umur mengendarai sepeda motor, pihaknya juga terus mendorong pentingnya penggunaan perangkat keselamatan seperti helm, sarung tangan, dan jaket. Menurutnya, kelengkapan atribut sangat berpengaruh dalam menurunkan risiko cedera fatal saat kecelakaan.

“Masih banyak pengendara sepeda motor yang enggan menggunakan atribut keselamatan, seperti helm. Padahal, helm dapat melindungi kepala dari benturan yang bisa mengancam nyawa,” cetusnya.

Tingginya angka kecelakaan sepeda motor juga ramai diperbincangkan netizen di media sosial X. Mereka juga menyoroti angka kecelakaan sepeda motor, yang melibatkan anak-anak dan remaja, baik selaku penumpang maupun pengendara.

“Setiap hari, ada aja berita kecelakaan motor. Sering banget, korbannya adalah anak-anak yang nggak pakai helm. Kalau sudah kecelakaan seperti itu orang tuanya bagaimana ya? Apa mereka baru mikir?” tulus akun @wantabear.

“Tolong deh, bapak-bapak dan ibu-ibu yang antar anaknya sekolah, anaknya dipakaikan helm. Aku ngeri banget, setiap hari lihat anak SD diantar orang tua, nggak pakai helm, tapi lewat jalan raya,” ucap akun @ubalabilcj77.

Baca juga : 40 Sekolah Swasta Bakal Uji Coba Pendidikan Gratis

“Kadang, jarak jadi alasan orang buat nggak pakai helm. Tapi, sering juga saya lihat, helm sudah dibawa, tapi hanya disangkutin di siku. Lah emang otaknya di siku?” timpal akun @passadewa.

“Untuk abang ojol, yang sedang mencari rejeki, tolong keselamatan berkendaranya diperhatikan. Belum lama, aku lihat ada ojol tabrakan dengan mobil gara-gara si abangnya terlalu fokus lihat google map yang nempel di dashboard motor,” pinta ujar akun @arokdeden162981_.  [SSL]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense