BREAKING NEWS
 

Transformasi TNI Dan Tantangan Pertahanan Non Konvensional

Reporter & Editor :
FAQIH MUBAROK
Minggu, 5 Oktober 2025 16:41 WIB
Peneliti Pertahanan di Indonesian Public Institute (IPI) Dr (Cand). Yulis Susilawaty. Foto: Dok IPI

 Sebelumnya 
Geopolitik Global: Ancaman dari Laut China Selatan hingga  Rusia-Ukraina

Selain ancaman siber, TNI juga harus mempersiapkan diri menghadapi dinamika geopolitik yang semakin kompleks. Ketegangan di Laut China Selatan dan invasi Rusia ke Ukraina menjadi ancaman yang tak hanya berdampak pada kawasan, tetapi juga pada kestabilan global yang langsung mempengaruhi Indonesia.

Laut China Selatan, yang merupakan salah satu jalur perdagangan paling vital di dunia, telah menjadi titik konflik yang melibatkan negara-negara besar, termasuk China, Amerika Serikat, dan negara-negara ASEAN.

Indonesia, meskipun tidak terlibat langsung dalam klaim teritorial Laut China Selatan, memiliki kepentingan besar dalam memastikan kebebasan navigasi di kawasan tersebut.

Menurut data ChinaPower, perdagangan senilai lebih dari $3,4 triliun melintasi Laut China Selatan pada tahun 2016. Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar, bergantung pula pada kelancaran jalur perdagangan ini. Dengan semakin meningkatnya ketegangan antara China dan negara-negara Barat, Indonesia perlu memperkuat kapasitas pertahanan maritimnya untuk menjaga kestabilan ekonomi dan keamanan nasional.

Baca juga : Akses Transportasi Umum Ke Kawasan Perumahan

Di sisi lain, invasi Rusia terhadap Ukraina sejak 2022 telah menciptakan dampak besar terhadap geopolitik dunia. Ketegangan yang melibatkan negara-negara besar ini membawa risiko ketidakstabilan yang juga berpengaruh pada Indonesia.

Salah satu dampak langsung yang dirasakan adalah lonjakan harga energi, terutama minyak dan gas, yang mengancam kestabilan ekonomi Indonesia yang sangat bergantung pada impor energi.

TNI, harus meningkatkan kemampuan pertahanan darat, udara dan maritimnya, untuk terus memperkuat kesiapsiagaan untuk menghadapi dampak dari ketegangan internasional yang terus meningkat.

Realisasi Program Essential Force (MEF)

Program Minimum Essential Force (MEF) merupakan langkah penting yang diambil Indonesia untuk memodernisasi kekuatan militer dan menghadapi berbagai ancaman yang semakin kompleks.

Baca juga : PT Genesis Sampaikan Permintaan Maaf ke Wartawan Korban Pengeroyokan

MEF dimulai pada tahun 2007 dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan alutsista TNI secara bertahap. Program ini bertujuan untuk mencapai standar minimum yang diperlukan dalam menghadapi potensi ancaman, termasuk pengadaan pesawat tempur, kapal perang, serta alat komunikasi dan radar canggih.

Program MEF dilaksanakan dalam tiga tahap utama: Tahap I (2007–2014): Fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar alutsista yang dapat memperkuat daya serang dan pertahanan TNI.

Tahap II (2015–2019): Peningkatan kapasitas alutsista dan memperkenalkan teknologi baru untuk memperkuat kemampuan pertahanan.

Tahap III (2020–2024): Penyempurnaan dan penyelesaian modernisasi alutsista dengan pengadaan teknologi canggih.

Adsense

Pada 2025, anggaran pertahanan Indonesia tercatat sebesar Rp 166,2 triliun, yang mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Baca juga : PHE Perkuat Rantai Pasok Migas untuk Jaga Ketahanan Energi Nasional

Namun, anggaran ini masih tergolong rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga yang mengalokasikan anggaran lebih besar. Sebagai perbandingan, Singapura mengalokasikan anggaran pertahanan sekitar USD 15 miliar (Rp245,7 triliun), sementara Malaysia dan Thailand masing-masing mengalokasikan sekitar USD 4,4 miliar (Rp68 triliun) dan USD 5,9 miliar (Rp91 triliun).

Anggaran yang terbatas seringkali menghambat proses pengadaan alutsista canggih dan pelatihan personel yang lebih terstruktur. Oleh karena itu, penguatan anggaran pertahanan menjadi salah satu aspek penting dalam mewujudkan tujuan jangka panjang MEF.

Pemerintah Indonesia perlu meningkatkan anggaran pertahanan Indonesia hingga mencapai 1,5-2 persen dari PDB dalam beberapa tahun ke depan untuk mempercepat proses modernisasi alutsista dan memperkuat kapasitas TNI.

Namun demikian, selain minimnya anggaran pertahanan terdapat sejumlah tantangan antara lain masalah transparansi anggaran pertahanan yang masih menyisakan persoalan.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense