RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Prabowo Subianto dinilai punya cara berpikir berbeda dalam membangun pendidikan nasional. Bagi Presiden ke-8 RI itu, pendidikan berkualitas tak cukup hanya dengan gedung megah dan kurikulum mentereng. Anak-anak harus sehat dulu, baru bisa pintar.
Pandangan itu disampaikan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Asep Saepudin Jahar, saat menjadi tamu di Podcast Ngegas yang di pandu editor Rakyat Merdeka Siswanto, Kamis (6/11/2025).
Menurut Prof Asep, jiwa sosial Prabowo sangat kuat dan menjadi landasan utama setiap kebijakan. “Kalau kita lihat kebijakan beliau, standarnya itu kerakyatan dan sosial. Prabowo ingin rakyat sejahtera, bukan cuma pintar di atas kertas,” ujarnya membuka perbincangan.
Baca juga : Tur Ke Gedung Parlemen, Egaliter Dan Tanpa Pagar
Itulah yang membuat Presiden meluncurkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lebih dulu, sebelum bicara soal kurikulum.
“Kalau perut anak-anak masih kosong, bagaimana mau belajar? Pak Prabowo paham betul, anak yang lapar tak bisa berpikir jernih,” kata lulusan Universitas McGill, Kanada, itu.
Dengan program MBG, lanjutnya, anak-anak bisa belajar tanpa khawatir kelaparan. Setelah gizi terpenuhi, barulah negara bicara peningkatan mutu pendidikan.
Baca juga : Freddy Alex Damanik: Kami Yakin Projo Tak Akan Tenggelam
Bukan cuma soal gizi. Prabowo juga menyiapkan sarana pendidikan lewat pendirian Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda. Dua lembaga ini ditujukan bagi anak-anak yang selama ini terpinggirkan dari akses pendidikan.
“Mereka yang sekolah di situ, banyak yang nggak pernah tidur di kasur. Artinya, dari bawah banget,” ungkap Prof Asep.
Menurutnya, langkah ini lahir dari niat tulus untuk membuka akses seluas-luasnya bagi rakyat kecil. “Pak Prabowo ingin generasi unggul dimotori SDM kuat, bukan SDM lapar,” cetus doktor filsafat lulusan Universitas Leipzig, Jerman itu.
Baca juga : Norman Hadinegoro: Tak Ada Magnet Lagi, Projo Bakal Tenggelam
Menariknya, kata Prof Asep, program pendidikan Prabowo juga berdampak pada ekonomi rakyat kecil. Ambil contoh MBG. Dari program ini, petani, peternak, nelayan, hingga pemasok bahan makanan ikut bergerak. Bahkan, sebagian pengangguran mendapat pekerjaan baru.
“Dampaknya inklusif. Rakyat yang semula hanya penonton, kini ikut terlibat,” jelasnya.
Ia juga menyinggung fenomena unik dari pelaksanaan MBG di daerah. Ada sebagian siswa membawa pulang jatah MBG untuk keluarganya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.