BREAKING NEWS
 

Ungkap Alasan Pengunduran Diri KH Idham Chalid

Syaifullah Tamliha: Gejolak Di PBNU Pernah Terjadi

Reporter & Editor :
FAQIH MUBAROK
Minggu, 30 November 2025 22:22 WIB
Mantan Ketua Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) Syaifullah Tamliha. Foto: Antara

 Sebelumnya 
Diketahui, gejolak di internal PBNU dipicu surat yang dikeluarkan Rais Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar. Isinya meminta Gus Yahya mundur. Surat yang bikin heboh itu, merupakan hasil Rapat Pengurus Harian Syuriah PBNU di Hotel Aston City, Jakarta, Kamis (20/11/2025).

Dalam rapat itu, Syuriah menilai Gus Yahya melakukan tiga pelanggaran yang dikategorikan sebagai “dosa besar". Pertama, mengundang narasumber jaringan zionisme internasional, Peter Berkowitz, dalam Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKN NU).

Kedua, memberikan “karpet merah” kepada pihak yang dinilai bertentangan dengan nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah serta Muqaddimah Qanun Asasi NU.

Ketiga, dugaan tata kelola keuangan yang dinilai mengandung persoalan syariat dan bisa membahayakan badan hukum NU.

Baca juga : Bikin Regulasi, Pemerintah Harus Semakin Hati-hati

Rais Aam lalu mengeluarkan surat yang menegaskan bahwa Gus Yahya tak lagi menjabat sebagai Ketua Umum atau Ketua Tanfidziyah PBNU. Dalam suratnya tercantum seluruh kewenangan dan atribut jabatan Ketua Umum dicabut mulai Rabu (26/11/2025) pukul 00.45 WIB. Untuk sementara, kendali organisasi dipegang Rais Aam.

Gus Yahya tak tinggal diam dan melawan sejak awal. Pertama, ia mengumpulkan seluruh PWNU se-Indonesia di Surabaya pada Sabtu malam hingga Minggu dini hari. Kedua, menggelar Silaturahmi Alim Ulama di Gedung PBNU lantai 8, Jalan Kramat Raya, Minggu (23/11/2025) malam.

Selanjutnya, Gus Yahya kembali melawan. Menurutnya, surat yang dikeluarkan Rais Aam terbaru, tidak memenuhi syarat ketentuan PBNU alias tidak sah. Selain itu, proses pemecatan cacat prosedur dan tidak memiliki dasar konstitusional.

"Secara de jure, jelas saya masih tetap Ketua Umum yang sah. Itu de jure. Menurut hukum jelas, ini tidak terbantahkan," kata Gus Yahya dalam konferensi pers di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (26/11/2025).

Baca juga : DKI Bakal Pindahkan Warga Di Tepi Sungai

Terbaru, Gus Yahya merotasi Sekjennya Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) dan sejumlah pejabat Tanfidziyah. Gus Yahya merotasi sejumlah pengurus Tanfidziyah Jumat (28/11/2025).

Ada lima pejabat Tanfidziyah yang dirotasi yakni Masyhuri Malik dari posisi semula sebagai Ketua PBNU ke posisi Wakil Ketua Umum, Saifullah Yusuf dari posisi semula sebagai Sekretaris Jenderal PBNU ke posisi Ketua PBNU, dan Gudfan Arif dari posisi semula sebagai Bendahara Umum ke posisi Ketua PBNU.

Kemudian, Amin Said Husni dari posisi semula sebagai Wakil Ketua Umum ke posisi Sekretaris Jenderal PBNU. Adapun posisi Bendahara Umum kini diisi Sumantri.

Usai Gus Yahya menggelar rapat Tanfidziyah, Rais Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar bersama perwakilan Syuriah dan PWNU se-Indonesia menggelar rapat tertutup di Kantor PWNU Surabaya, Jawa Timur (Jatim), Sabtu (29/11/2025). Hadir Sekjen Syaifullah Yusuf dan Rais Syuriah Mohammad Nuh.

Baca juga : Urgensi Penguatan Ideologi Pancasila di Tengah Gejolak Konflik Antarnegara 

Usai rapat, Kiai Miftach menegaskan, Gus Yahya tidak lagi menjabat sebagai Ketua Umum PBNU sejak 26 November 2025 pukul 00.45 WIB. Sehingga tak lagi punya kewenangan maupun hak menggunakan atribut Ketua Umum.

"Sejak saat itu, kepemimpinan PBNU sepenuhnya berada di tangan Rais Aam," tegas Kiai Miftach dalam konferensi pers usai pertemuan. Artinya, sambung dia, penggunaan atribut atau pengambilan keputusan atas nama Ketua Umum tak lagi memiliki legitimasi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense