RM.id Rakyat Merdeka - Wartawan Rakyat Merdeka, Muhammad Ade Al Kautsar, kembali mengunjungi Aceh Tamiang untuk melihat langsung perkembangan perbaikan wilayah tersebut sebulan pasca dilanda banjir bandang. Berikut laporannya:
Ratna, warga Desa Paya Awe, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, berkali-kali mengelap air mata, saat mengenang rumahnya yang hanyut dibawa banjir bandang. Karena, anaknya, Abi yang masih kelas 1 SD mulai sering bertanya, kapan bisa pulang lagi ke rumah dan pergi sekolah.
Untuk mengobati kerinduan itu, pagi-pagi, Abi diantar Ratna ke Posko BRI Peduli di kompleks Masjid Nurul Mukhlisin, Desa Upah, Kecamatan Bendahara.
Di posko ini, ada tenda layanan Trauma Healing, tempat anak-anak belajar dan bermain. Di sini, Abi terlihat ceria, karena kembali bertemu dengan teman-temannya. Namun, raut wajahnya berubah ketika sesi menggambar. Awal nya, ia hendak menggambar rumah. Namun, tidak jadi.
“Nggak jadi lah,” ucapnya, menggeleng dengan wajah cemberut. “Rumah kami sudah hanyut,” lanjutnya, polos.
Baca juga : Pengungsi Dapat Makanan Bergizi, Ekonomi Berputar
Ketika diberi mainan, ia juga menolak. Ia mengaku sangat ingin bertemu Presiden Prabowo Subianto, yang kemarin, Kamis (1/1/2025) berkunjung ke lokasi Hunian Sementara (Huntara) di Simpang Empat Upah, Karang Baru, sekitar 100 meter dari tenda BRI Peduli.
“Kami minta rumah aja pak,” jawab Abi spontan, saat ditanyakan apa yang ingin disampaikan jika bertemu presiden Prabowo.
“Iya, biar dibuat sama juragannya (tukang bangunan, red),” ucap Abi, berandai-andai, jika permintaannya dikabulkan sang Presiden.
Selama ini, Abi tinggal di tenda, berempat dengan ibu, ayah dan kakaknya yang sudah kelas 1 SMP. “Ketika hujan ya tetap basah anak-anak bang, tampias. Enggak ada dindingnya,” ujar Ratna, ibunya Abi.
Bahkan, sampai saat ini ia masih trauma dengan ular cobra yang tiba-tiba menelusup masuk ke dalam tenda. “Beruntung, cuma lewat saja, tidak ada yang digigit. Karena di belakang kami, banyak enceng gondok yang dibawa banjir,” ingatnya.
Baca juga : Prabowo Tinjau Hunian Sementara Di Tamiang
Baru kemudian, ia mendapatkan tenda milik BNPB yang relatif lebih aman. “Tapi ketika siang, panas sekali di dalamnya pak… he-he-he,” lanjutnya.
Satu hal lain, yang kini menjadi buah pikiran Ratna adalah belum adanya seragam sekolah untuk kedua anaknya. Karena jadwalnya, tanggal 5 Januari nanti, proses belajar-mengajar dimulai kembali.
“Seragam anak-anak hanyut semua. Sepatu mereka juga belum ada pak,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Tidak cuma Ratna. Ramsiah juga masih bingung bagaimana harus membeli seragam keempat anaknya, yang kini duduk bangku SD dan SMP. Padahal, seragam anaknya baru saja dibeli sebelum banjir bandang, usai bantuan PKH dari pemerintah cair.
Sementara di sekolah, dewan guru dibantu relawan dan personel TNI bahu-membahu membersihkan lumpur. Namun, usaha yang dilakukan secara manual itu baru bisa mengeluarkan lumpur dari beberapa ruang kelas saja. Lumpur tebal di pekarangan sekolah belum mampu disingkirkan.
Baca juga : 2026, Purbaya Target Ekonomi Tumbuh 6 Persen
“Ini memang harus dikeruk pak, baiknya menggunakan alat berat, dan dibawa menggunakan dump-truck,” ucap Zainuddin, salah seorang guru SD Negeri Tugu Upah, Karang Baru yang kami temui saat sedang bersih-bersih lumpur bersama para relawan.
Zai, sapaan akrab Zainuddin, juga bilang, seluruh perlengkapan sekolah, baik buku, komputer, mobiler dan alat lainnya juga rusak parah. “Saya sempat coba tekan kursi murid, ternyata sudah lapuk sekali pak. Tidak bisa lagi diduduki pak,” lanjutnya.
Ia memperkirakan, anak-anak harus belajar lesehan di lantai, sampai meja dan kursi kembali tersedia. Namun, ia juga khawatir, ruang kelas sudah dibersihkan bisa kembali berlumpur, jika lumpur di pekarangan sekolah yang masih tebal belum dikeruk. [SAR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.