BREAKING NEWS
 

Penuhi Kebutuhan Hidup, Korban Banjir Sumatera Putar Otak Cari Pekerjaan

Reporter : M ADE AL KAUTSAR
Editor : OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Senin, 5 Januari 2026 07:30 WIB
Kawasan hunian sementara (huntara) untuk korban bencana banjir bandang di Karang Baru, Aceh Tamiang. (Foto: Dok. Danantara)

RM.id  Rakyat Merdeka - Wartawan Rakyat Merdeka, Muhammad Ade Al Kautsar, kembali mengunjungi Aceh Tamiang untuk melihat langsung perkembangan perbaikan wilayah tersebut pasca dilanda banjir bandang. Berikut laporannya:

Seorang pria paruh baya mengenakan sepatu bot tampak tergopoh-gopoh mengejar kami dari kejauhan saat melintas di depan pintu gerbang Hunian Sementara (Huntara) di Desa Simpang Empat, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, Sabtu (3/1/2025). Ia mengira kami adalah pekerja di proyek yang diprakarsai Danantara tersebut. 

“Pak, apa ada lowongan untuk saya bekerja di sini?” tanyanya penuh harap. 

“Maaf, Pak, kami kurang tahu. Kami cuma mampir sebentar saja,” jawab kami. 

Baca juga : KOI Apresiasi Dukungan Penuh Presiden Prabowo

Dengan wajah lesu, pria itu pun menyeberang jalan dan berlalu pergi. 

Saat ini, di Desa Simpang Empat memang tengah berlangsung proyek besar pembangunan sekitar 600 unit Huntara. Hampir seribuan orang bekerja siang dan malam di lokasi tersebut. 

Menurut Rahmad, warga Telaga Meuku, Kecamatan Banda Mulia, yang ditemui di salah satu warung kopi dekat lokasi proyek, sejumlah warga dari kampungnya telah direkrut untuk bekerja. Meski demikian, ia berharap jumlah pekerja dari penduduk lokal dapat diperbanyak. 

Adsense

“Karena setelah musibah banjir, banyak warga yang kehilangan mata pencaharian. Sangat membutuhkan pekerjaan seperti ini,” ujarnya. 

Baca juga : Abdul Aziz: Pencabutan Tidak Selesaikan Masalah

Ia menyadari ada sejumlah posisi yang membutuhkan keterampilan khusus sehingga tidak bisa diisi oleh warga setempat dan mengharuskan perekrutan pekerja dari luar daerah. 

“Namun untuk pekerja biasa, kami berharap bisa didominasi oleh warga lokal,” pintanya. 

Sulitnya warga mencari nafkah pascabencana banjir bandang juga dibenarkan Poniran (60), warga Paya Awe, Kecamatan Karang Baru. Ia yang sebelumnya berprofesi sebagai petani kini tidak lagi bisa menggarap lahannya. 

“Lahan kami sudah dipenuhi lumpur, semua tanaman mati,” ucap Poniran. 

Baca juga : Justin Adrian Untayana: Saya Usulkan Agar Bansosnya Dicabut

Ia memperkirakan sekitar Rp 30 juta modal yang digunakan untuk menggarap sawahnya ludes tersapu banjir bandang. Selain itu, produktivitas kebun sawitnya juga menurun drastis. 

Poniran berharap pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap sektor pertanian, mengingat banyak warga menggantungkan hidup di sektor tersebut. “Setidaknya kami bisa mendapatkan bantuan bibit dan pupuk agar petani kembali bergairah,” harapnya. 

Sementara itu, Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Aceh Tamiang, Ishak Syamaun mengatakan, penyediaan lapangan kerja akan menjadi persoalan paling krusial setelah masa tanggap darurat bencana. 

Menurutnya, dalam jangka panjang warga tidak bisa terus bergantung pada bantuan sembako maupun belas kasihan pihak lain. “Sekarang saja sudah banyak warga yang mulai termenung karena tidak tahu harus mencari nafkah ke mana. Ini hal penting yang harus segera kita pikirkan,” ujarnya. [SAR]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense