RM.id Rakyat Merdeka - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menunjukkan dampak nyata di ruang kelas. Hasil survei Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menemukan pemberian MBG meningkatkan fokus belajar siswa di berbagai daerah.
Kemendikdasmen melalui Pusat Penguatan Karakter merilis hasil Survei Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH). Hasilnya menunjukkan program MBG berdampak positif terhadap proses belajar siswa, terutama dalam mengurangi gangguan konsentrasi akibat rasa lapar.
Temuan tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti. Ia menegaskan, MBG merupakan bagian dari strategi pembangunan manusia jangka panjang.
Baca juga : Rupiah Dekati 17.000 Per Dolar, Gubernur BI Anggap Kemurahan
“Kita sedang menyiapkan generasi 2045, yakni mereka yang hari ini masih berada di bangku PAUD, SD, SMP, SMA, bahkan yang masih dalam kandungan, agar tumbuh sehat, cerdas, dan kuat secara fisik maupun mental,” ujarnya di Jakarta, Kamis (19/2/2026).
Survei 7KAIH dilakukan sejak tahap baseline pada Mei–Juni 2025 hingga endline pada November–Desember 2025. Survei melibatkan 1.203.309 responden murid secara nasional.
Hasilnya menunjukkan terjadi penurunan gangguan belajar akibat lapar sebesar 2,37 poin persentase lebih besar pada sekolah penerima MBG dibandingkan sekolah yang belum menerima program.
Baca juga : Usut Dugaan Korupsi POME, Kejagung Sita Enam Mobil
Di wilayah Indonesia Timur, dampaknya lebih signifikan. Penurunan gangguan belajar akibat lapar di sekolah penerima MBG tercatat 14,85 poin persentase lebih tinggi dibandingkan sekolah yang belum melaksanakan program.
Capaian ini mengisyaratkan bahwa intervensi gizi melalui MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar murid, tetapi juga memperkuat kesiapan mereka dalam mengikuti pembelajaran.
Kemendikdasmen menilai data tersebut menjadi bukti penting dalam mengurangi kesenjangan pendidikan, terutama di kawasan timur Indonesia, karena membantu murid belajar dengan lebih fokus dan memiliki kesempatan yang lebih setara.
Baca juga : Ketua PPP Jabar Daftarkan Gugatan Di PN Jakarta Pusat
Kepala Pusat Penguatan Karakter, Rusprita Putri Utami menjelaskan, pemilihan responden menggunakan pendekatan systematic sampling untuk memastikan hasil evaluasi representatif. Sekolah pelaksana MBG dipilih secara acak dengan memastikan memiliki data awal dan akhir yang memadai.
“Setelah itu, kami padankan dengan sekolah yang belum melaksanakan MBG dengan jenjang, wilayah, dan jumlah murid yang relatif sama, sehingga kondisi awal data hampir identik dan dapat dibandingkan,” kata Rusprita, Kamis (19/2/2026).
Menurutnya, pendekatan tersebut memperkuat validitas hasil sekaligus memastikan setiap rekomendasi kebijakan benar-benar berbasis data.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.