BREAKING NEWS
 

Eskalasi Di Selat Hormuz Memanas

Politisi Gerindra Ingatkan Dampak Ekonomi Global

Reporter : BOY SAKTI HAPSORO
Editor : ABDUL SHOMAD
Kamis, 26 Maret 2026 06:40 WIB
Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Gerindra, Azis Subekti. (Foto: Dok. Gerindra)

RM.id  Rakyat Merdeka - Situasi di Selat Hormuz, yang membatasi lalu lintas perairan akibat perang Amerika Serikat-Israel versus Republik Islam Iran berpotensi menimbulkan dampak luas terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia.

“Sekitar seperlima minyak dunia melewati selat sempit ini. Jika terganggu, bahkan hanya beberapa minggu, ekonomi global akan langsung merasakan dampaknya,” kata Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Gerindra, Azis Subekti pada Selasa (24/3/2026). 

Anggota Komisi II DPR ini menjelaskan, gangguan di Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga energi, meningkatkan inflasi, hingga mengguncang stabilitas politik di berbagai negara. Dampaknya juga, kata dia, berpotensi dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama melalui penurunan daya beli. 

Menurut Azis, negara-negara besar memiliki kepentingan berbeda dalam merespons konflik tersebut. Amerika Serikat berupaya menjaga stabilitas jalur perdagangan global, sementara China fokus pada keamanan pasokan energi bagi industrinya. Di sisi lain, Rusia melihat krisis ini sebagai peluang strategis. 

Baca juga : BNI Suntik Pegadaian Kredit Pembiayaan 10 T

“Dalam logika geopolitik, setiap krisis yang menyibukkan Amerika di Timur Tengah bisa menjadi keuntungan bagi Rusia,” ujarnya. 

Aziz mengatakan, negara-negara Teluk, seperti Arab Saudi juga menghadapi dilema. Di satu sisi memandang Iran sebagai rival, namun di sisi lain konflik terbuka berisiko mengganggu stabilitas ekonomi kawasan. 

Adsense

"Iran memiliki strategi memperluas konflik sebagai bentuk perlawanan. Sedangkan Israel melihat ancaman Iran sebagai sesuatu yang harus segera ditekan, termasuk melalui opsi militer," ujarnya. 

Menurut Azis, peta global saat ini dapat disederhanakan dalam tiga kepentingan besar: kelompok opensif, kelompok perlawanan, dan kelompok penyeimbang. Ketiganya sama-sama menaruh perhatian pada Selat Hormuz sebagai titik krusial. 

Baca juga : Reformasi WTO Harus Adil Untuk Negara Berkembang

Dia memperkirakan konflik tidak akan berkembang menjadi perang besar dalam waktu dekat, namun berpotensi meluas secara regional. 

“Kejutan terbesar justru bisa datang dari sisi ekonomi, terutama jika distribusi energi terganggu. Stabilitas jalur energi menjadi faktor kunci yang menentukan arah ekonomi global ke depan,” pungkasnya. 

Sebelumnya, Pemerintah Indonesia telah mengambil langkah strategis untuk mengantisipasi dampak konflik geopolitik di Asia Barat akibat lumpuhnya jalur perdagangan minyak dunia di Selat Hormuz. 

Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan jajarannya, terutama yang tergabung dalam Satuan Tugas Energi Baru, Terbarukan, dan Konversi Energi (Satgas EBTKE) untuk mempercepat transisi dari energi fosil menuju energi baru terbarukan, khususnya yang bersumber dari tenaga surya. 

Baca juga : Yuk, Kita Pilah & Pendam Sampah Organik Di Tanah

"Harus ada alternatif-alternatif apa yang akan dipakai ketika Selat Hormuz kondisinya masih seperti ini," kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang juga ketua Satgas EBTKE di Istana, Jakarta, Kamis (12/3/2026). [BSH]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense