BREAKING NEWS
 

Dokter Spesialis: MBG Jadi Kunci Cetak SDM Unggul Menuju Indonesia Emas 2045

Reporter & Editor :
OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Jumat, 24 April 2026 19:36 WIB
Pekerja menyiapkan paket Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (16/12/2025). (Foto: Khairizal Anwar/Rakyat Merdeka)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menyongsong visi Indonesia Emas 2045, kualitas penduduk menjadi faktor krusial di tengah besarnya jumlah populasi nasional.

Dengan lebih dari 282 juta jiwa, tantangan Indonesia bukan hanya soal kuantitas, tetapi bagaimana memaksimalkan bonus demografi agar unggul secara fisik dan kognitif.

Salah satu upaya strategis yang kini dijalankan pemerintah adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia sejak dini.

Dokter spesialis sekaligus edukator kesehatan, dr. Andi Khomeini Takdir, Sp.PD, atau yang akrab disapa dr. Koko, menyatakan dukungannya terhadap program tersebut. Ia menyebut MBG sebagai langkah konkret dalam memenuhi kebutuhan gizi nasional.

“Bonus demografi bukan hanya soal jumlah penduduk, tetapi juga kualitasnya. Upaya pemerintah dalam menyediakan kecukupan gizi adalah langkah yang tepat,” ujar dr. Koko, Jumat (24/4/2026). 

Baca juga : BRIN Gandeng UAG University Perkuat SDM Riset Menuju Indonesia Emas

Dukungan terhadap program ini juga tercermin dalam survei terbaru Poltracking Indonesia, yang menunjukkan MBG sebagai salah satu program pemerintah dengan tingkat ekspektasi dan dukungan publik tertinggi.

Program ini dinilai membantu keluarga, khususnya kelompok menengah ke bawah, dalam memenuhi kebutuhan gizi anak setidaknya sekali sehari.

Menurut dr. Koko, pemenuhan gizi tidak perlu dilakukan dengan cara yang rumit. Ia menekankan pentingnya penyajian menu sederhana namun tetap bernutrisi.

Adsense

“Kembali ke dasar. Nasi, ikan, sayur, telur, atau ayam suwir sudah cukup. Anak-anak yang terbiasa dengan pola ini juga akan teredukasi secara rasa dan tidak menjadi picky eater,” jelasnya.

Temuan dari Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) turut memperkuat hal tersebut. Sekitar 80 persen orang tua melaporkan adanya perbaikan pola makan anak setelah mengikuti program MBG.

Baca juga : Akhiri Polemik, MA Perkuat Legalitas Kolegium Kesehatan Indonesia 2024-2028

Pengenalan sayur dan protein sejak dini juga dinilai efektif dalam menekan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes dan obesitas di masa depan.

Meski demikian, dr. Koko mengakui program ini masih menghadapi sejumlah tantangan teknis di lapangan. Ia menilai hal tersebut sebagai bagian dari proses yang perlu dikawal bersama.

“Kita tidak bisa berharap program sebesar ini langsung sempurna. Kritik dan masukan harus dilihat sebagai bahan evaluasi untuk perbaikan berkelanjutan,” tuturnya.

Dengan pelaksanaan yang konsisten, dr. Koko optimistis dampak program MBG akan terasa secara kumulatif dalam jangka panjang.

“Efeknya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi jika dilakukan setiap hari selama bertahun-tahun, dampaknya akan signifikan,” katanya.

Baca juga : Safari Ramadan di Jateng, Kapolri Ajak Semua Elemen Wujudkan Indonesia Emas 2045

Ia juga menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan program melalui kolaborasi antara pemerintah, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), serta pengawasan masyarakat.

Melalui sinergi tersebut, program Makan Bergizi Gratis diharapkan mampu menjadi penggerak lahirnya generasi Indonesia yang lebih sehat, cerdas, dan berdaya saing tinggi menuju tahun 2045.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense