RM.id Rakyat Merdeka - Ketahanan pangan di Kalimantan Selatan (Kalsel) tetap terjaga di tengah tekanan inflasi nasional. Tidak hanya bertumpu pada produksi, kondisi ini juga tercermin dari stabilnya harga, kelancaran distribusi, serta meningkatnya kesejahteraan petani di daerah.
Sepanjang triwulan I 2026, inflasi pangan Kalsel berada dalam koridor aman. Data mencatat inflasi sebesar 0,2 persen pada Januari, meningkat menjadi 0,86 persen pada Februari, dan kembali melandai ke 0,5 persen pada Maret.
Pola ini menunjukkan gejolak harga tetap terjadi, namun berhasil dikendalikan melalui intervensi pemerintah seperti Gerakan Pasar Murah dan penguatan distribusi logistik antarwilayah.
Baca juga : Kecelakaan KA Bekasi Timur, 13 Perjalanan Kereta Jarak Jauh Dibatalkan
Stabilitas tersebut berdampak langsung pada daya beli masyarakat. Kenaikan harga kebutuhan pokok memang terjadi pada momen tertentu seperti hari besar keagamaan, namun tidak berlangsung lama maupun ekstrem.
Di sisi lain, kesejahteraan petani menunjukkan tren menguat. Nilai Tukar Petani (NTP) meningkat dari 121,1 menjadi 124,74, hingga mencapai 126,53 pada Maret 2026. Kenaikan ini mencerminkan petani tetap memperoleh keuntungan di tengah dinamika harga, sehingga keseimbangan antara produsen dan konsumen tetap terjaga.
Kinerja tersebut mengantarkan Kalsel menjadi peringkat pertama nasional dalam Indeks Ketahanan Pangan 2025 dengan skor 81,98. Surplus beras yang mencapai 1,2 juta ton semakin memperkuat posisi daerah ini sebagai salah satu lumbung pangan utama di Kalimantan.
Baca juga : Bahlil Ungkap Kendala Pengembangan LPG: Bahan Baku Terbatas
Gubernur Kalimantan Selatan, Muhidin menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak hanya soal ketersediaan, tetapi juga menyangkut akses dan keberlanjutan. "Ketahanan pangan bukan hanya soal ketersediaan bahan pangan, tetapi juga mencakup keterjangkauan dan keberlanjutan produksi bagi masyarakat," kata Muhidin kepada wartawan, Rabu (29/4/2026).
Ia menambahkan, pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara kepentingan produsen dan konsumen. “Kita ingin petani sejahtera, tetapi masyarakat juga tetap bisa membeli dengan harga wajar. Di situlah pemerintah hadir untuk menjadi keseimbangan,” lanjutnya.
Meski demikian, tantangan masih membayangi. Fluktuasi harga komoditas tertentu, gangguan rantai pasok global, hingga dampak perubahan iklim menjadi faktor yang perlu diantisipasi. Karena itu, penguatan sistem distribusi dan intervensi berkelanjutan menjadi kunci menjaga stabilitas pangan jangka panjang.
Baca juga : DPR Happy, Ketahanan Energi Kita Diakui Dunia
Transformasi sektor pangan di Kalsel mulai mengarah pada hilirisasi. Produk pertanian tidak lagi dijual mentah, tetapi diolah untuk meningkatkan nilai tambah. Pada komoditas padi, pengembangan beras premium membuka peluang margin lebih besar bagi petani sekaligus memberikan pilihan lebih beragam bagi konsumen.
Hilirisasi juga berkembang pada komoditas non-utama seperti singkong yang diolah menjadi beras analog di Kabupaten Tanah Bumbu. Inovasi ini tidak hanya menciptakan sumber pendapatan baru, tetapi juga menjadi alternatif konsumsi yang membantu meredam tekanan inflasi pangan.
Diversifikasi hortikultura turut memperkuat ketahanan pangan. Produksi cabai besar mencapai lebih dari 11 ribu ton dan cabai rawit sekitar 14 ribu ton, membantu menjaga stabilitas harga komoditas yang selama ini rawan bergejolak. Selain itu, pengembangan bawang merah, jahe, jeruk, durian, dan pisang membuka peluang ekonomi baru bagi petani.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.