RM.id Rakyat Merdeka - Ketua Umum Relawan Jokowi atau ReJO for Prabowo Gibran HM Darmizal MS mengapresiasi pidato Presiden Prabowo Subianto saat meresmikan Museum Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Sabtu (15/5/2026).
Dalam pidatonya, Prabowo menyinggung soal masyarakat desa yang dinilai tidak terlalu terdampak langsung oleh gejolak kurs dolar AS. Menurut Prabowo, masyarakat desa tidak menggunakan dolar dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya yakin sekarang ada yang selalu entah apa saya tidak mengerti. Sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos, akan apa. Rupiah begini, dolar begini, orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok,” ujar Prabowo.
Menanggapi hal itu, Darmizal menilai pernyataan Prabowo tidak bisa dipahami secara sempit sebagai sikap anti ekonomi global. Menurutnya, pesan yang ingin disampaikan Presiden adalah pentingnya membangun bangsa yang tangguh dan mandiri dari bawah.
“Yang dimaksud adalah sebuah pesan strategis. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang memiliki kemampuan bertahan, memenuhi kebutuhan pokoknya sendiri, dan tidak kehilangan martabat ketika dunia mengalami krisis,” kata Darmizal, Selasa (19/5/2026).
Pria asal Minangkabau itu mengatakan, gagasan tersebut sejalan dengan semangat yang pernah disampaikan Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri mengenai kekayaan alam dan sumber pangan Indonesia yang memungkinkan rakyat tetap bertahan di tengah tekanan global.
Menurut Darmizal, hakikat pesan Prabowo bukan menolak perdagangan internasional maupun modernitas. Pemerintah, kata dia, justru ingin membangun pondasi ekonomi nasional yang kuat melalui masyarakat desa yang mandiri, kreatif dan produktif.
Baca juga : Jubir Gerindra: Pesan Pidato Prabowo di Nganjuk, Optimisme & Kemandirian Ekonomi
Ia menggambarkan desa masa depan sebagai wilayah yang mampu memenuhi kebutuhan hidup warganya secara mandiri. Mulai dari pangan, energi hingga ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.
“Karbohidrat tidak semata bergantung pada beras impor atau gandum impor. Kita punya singkong, talas, ubi jalar, suweg, sagu, jagung, dan berbagai umbi lokal yang gizinya juga baik,” ujarnya.
Darmizal menambahkan, sumber protein masyarakat desa juga dapat diperoleh dari kolam ikan, ternak ayam kampung, telur hingga hasil pertanian lokal. Bahkan, pekarangan rumah bisa dimanfaatkan menjadi sumber pangan keluarga.
“Cabai, tomat, daun kelor, pisang, pepaya sampai rempah-rempah bisa tumbuh di halaman sendiri,” katanya.
Alumni Universitas Gadjah Mada itu juga menilai desa-desa di Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan energi mandiri. Mulai dari mikrohidro, biogas, tenaga surya hingga pengolahan limbah pertanian.
Menurutnya, masyarakat yang memiliki kemandirian pangan dan energi akan lebih tahan menghadapi gejolak global, termasuk perang dagang, konflik geopolitik maupun pelemahan nilai tukar.
“Masyarakat yang kuat bukan masyarakat yang seluruh hidupnya tergantung pada produk luar negeri dan mata uang asing. Tetapi masyarakat yang mampu memanfaatkan sumber dayanya sendiri dengan kreativitas dan ilmu pengetahuan,” tegasnya.
Baca juga : Prabowo Panggil Menteri Ekonomi Hingga Gubernur BI Ke Istana, Bahas Apa?
Darmizal juga menekankan pentingnya memadukan kearifan lokal dengan teknologi modern. Ia mencontohkan petani desa yang memanfaatkan aplikasi digital untuk pemasaran hasil panen, hingga anak muda desa yang membangun usaha kopi, gula aren, wisata alam dan industri pangan sehat berbasis potensi daerah.
“Desa masa depan bukan desa miskin dan tertinggal. Desa masa depan adalah pusat produksi pangan, energi, budaya dan ekonomi kreatif bangsa,” ujarnya.
Ia menilai tekanan global justru bisa menjadi momentum kebangkitan nasional. Ketika harga barang impor naik, masyarakat terdorong menemukan potensi dan kekuatan ekonominya sendiri.
“Ketika dunia terguncang, kreativitas rakyat tumbuh dengan memanfaatkan perangkat IT dan jaringan internet sebagai sarana pemasaran yang tepat sasaran. Ketika ketergantungan dikurangi, martabat bangsa meningkat,” katanya.
Darmizal menegaskan, negara-negara besar dunia juga memperkuat sektor pangan domestik, menjaga energi nasional dan melindungi industri dalam negeri agar tidak mudah ditekan kondisi global.
Menurut dia, Indonesia memiliki modal besar berupa tanah subur, air melimpah, sinar matahari sepanjang tahun, garis pantai panjang serta budaya gotong royong yang kuat.
“Dengan modal sebesar itu, sangat logis bila pemimpin bangsa mendorong rakyat agar tidak memiliki mental ketergantungan,” ujarnya.
Baca juga : Prabowo Resmikan Museum Marsinah, Simbol Keberanian Pejuang Hak Buruh & Perempuan
Di akhir keterangannya, Darmizal menegaskan pesan Prabowo merupakan ajakan membangun ketahanan nasional dari keluarga, desa, petani, nelayan, UMKM dan ekonomi rakyat.
“Dolar tetap penting dalam hubungan ekonomi global, investasi, ekspor-impor dan pembangunan industri strategis. Namun kehidupan rakyat sehari-hari tidak boleh rapuh hanya karena gejolak mata uang dunia,” tandasnya.
Menurut Darmizal, bangsa besar adalah bangsa yang tetap bisa makan, bekerja dan hidup tenang meski dunia sedang tidak baik-baik saja.
“Dan Indonesia, dengan seluruh kekayaan alam dan kearifan lokalnya, sesungguhnya memiliki kemampuan untuk itu,” tutupnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.