BREAKING NEWS
 

Harga Turun Saat Dolar Naik, Sawit Dimainkan Kartel

Reporter : NUR ROCHMANNUDIN
Editor : SISWANTO
Selasa, 9 Juni 2026 07:50 WIB
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyampaikan keterangan kepada wartawan di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (8/6/2026). (Foto: Dok. Kementan)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah mencurigai ada permainan kartel di balik anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit di dalam negeri. Pasalnya, penurunan ini terjadi di saat Crude Palm Oil (CPO) dunia sedang naik, serta menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah. 

Saat ini, harga CPO global mengalami kenaikan. Contohnya di bursa derivatif Malaysia, harga minyak sawit berada di kisaran 4.550 ringgit Malaysia per metrik ton. Angka ini menunjukkan kenaikan tahunan sekitar 16,26 persen. 

Kondisi serupa juga terjadi di pasar fisik Eropa yang berbasis di Rotterdam, Belanda. Harga CPO berkisar di rentang 1.560 hingga 1.600 dolar AS per metrik ton. 

Baca juga : Ditegaskan Satgas PKH, Penyitaan 15 Kontainer LTJ Sah Dan Berbasis Bukti

Namun, tingginya harga CPO di tingkat dunia tidak berbanding lurus dengan kondisi di dalam negeri. Harga TBS kelapa sawit di tingkat petani justru sempat terperosok di kisaran Rp 1.500 per kilogram.

Merespons fenomena ini, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menggelar Rapat Koordinasi Pembahasan Perkembangan dan Upaya Stabilisasi Harga TBS Kelapa Sawit di Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (8/6/2026). Rapat tersebut dihadiri pelaku usaha, asosiasi petani sawit, Satgas Pangan Polri, serta jajaran Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda dari 25 provinsi di Indonesia. 

Dalam rapat tersebut, Amran meminta harga TBS kelapa sawit harus kembali normal. 

Baca juga : Zulhas Minta Kader PAN Jadi Solusi Masalah Sampah

"Alhamdulillah, hari ini sepakat tidak ada lagi harga yang turun. Harus naik seperti kondisi semula. Bahkan bila perlu itu naik lebih tinggi," ujarnya dalam konferensi pers usai rapat. 

Menurut Amran, seharusnya harga TBS kelapa sawit berada dalam tren kenaikan mengikuti harga CPO global. Terlebih, nilai tukar dolar AS telah menyentuh Rp 18 ribu. Rendahnya harga TBS di dalam negeri dinilai sebagai anomali. 

"Kenapa turun? Kami tanya, tidak ada yang bisa jawab. Oke kita sepakat semua, tidak ada satupun yang menolak. Ketua asosiasi, perusahaannya hadir, pengusahanya hadir, eksportirnya hadir, semua sepakat harga kembali seperti semula," tuturnya. 

Adsense

Baca juga : Maraton Gelar Musda, Golkar Papua Tengah Benahi Struktur Hingga Tingkat Desa

Saat ini, sekitar 70 persen harga TBS mulai pulih di rentang Rp 3.200-Rp 3.600 per kilogram. Namun, harga normal masih bergantung pada masing-masing daerah sesuai ketentuan Peraturan Gubernur (Pergub). 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense