Laporan Wartawan Rakyat Merdeka Muhammad Rusmadi dari Tanah Suci, Makkah
RM.id Rakyat Merdeka - Tagline “Haji 2026 Ramah Lansia, Disabilitas, dan Perempuan” tidak berhenti sebagai slogan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai layanan yang memberi ruang setara bagi seluruh jemaah, termasuk penyandang disabilitas.
Salah satu kisah yang mencerminkan semangat tersebut datang dari Sharfina Diah Nuratika, jemaah haji berusia 30 tahun yang merupakan penyandang disabilitas autisme. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi, dia berhasil menjalani seluruh rangkaian ibadah haji bersama keluarganya di Tanah Suci.
Perjalanan Sharfina menjadi bukti bahwa penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk menunaikan rukun Islam kelima.
Wakil Ketua Komisi Nasional Disabilitas (KND), Deka Kurniawan, menegaskan bahwa setiap warga negara memiliki hak yang setara dalam kehidupan beragama, termasuk penyandang disabilitas.
Menurutnya, penyandang autisme menghadapi tantangan yang tidak sederhana, mulai dari proses keberangkatan, adaptasi lingkungan baru, hingga pelaksanaan puncak ibadah haji yang melibatkan jutaan orang.
Baca juga : Janji Presiden di Lampung: 400 Rumah Sakit, 10 Ribu Puskesmas Akan Direnovasi
Karena itu, kisah Sharfina diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi penyandang disabilitas lainnya untuk tetap memiliki harapan dan kesempatan yang sama dalam menunaikan ibadah haji.
Deka juga menyoroti masih adanya stigma negatif terhadap penyandang disabilitas di masyarakat. Menurutnya, sebagian orang masih memandang mereka berbeda dan tidak setara dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk urusan keagamaan.
Sharfina berangkat ke Tanah Suci bersama kedua orang tuanya, Lilis Ardifiyanti dan Andradiet Ixvetrial Jacob Alis, serta sang kakak, Aditya Kemal.
Lilis mengungkapkan bahwa ide mengajak Sharfina berhaji berawal dari pengalaman umrah keluarga pada 2008. Saat itu mereka ingin mengetahui sejauh mana Sharfina mampu beradaptasi dengan situasi ibadah yang padat dan penuh interaksi sosial.
Hasilnya di luar dugaan. Selama umrah, Sharfina mampu menjalani seluruh rangkaian ibadah dengan baik, mulai dari tawaf hingga sa'i, tanpa mengalami hambatan berarti maupun gangguan perilaku.
Pengalaman tersebut membuat keluarga yakin untuk mendaftarkan Sharfina sebagai calon jemaah haji. Pada 2013, setelah memperoleh kartu identitas, Sharfina didaftarkan haji bersama kedua orang tua dan kakaknya.
Baca juga : AS Larang Fans Iran Nonton di Stadion
Lilis mengatakan sejak awal kondisi autisme yang dimiliki Sharfina sudah dicantumkan dalam data pendaftaran sehingga menjadi bagian dari informasi resmi jemaah.
Perjalanan menuju Tanah Suci ternyata tidak singkat. Keluarga harus menunggu selama 13 tahun, termasuk akibat penundaan yang terjadi pada masa pandemi Covid-19.
Selama masa tunggu itu, orang tua Sharfina terus mempersiapkan putrinya agar siap menghadapi tantangan ibadah haji yang jauh lebih berat dibanding umrah.
Berbagai latihan dilakukan, mulai dari membiasakan Sharfina berada di tengah keramaian, berinteraksi dengan lingkungan baru, hingga melakukan perjalanan udara jarak jauh.
Lilis juga sering mengajak Sharfina mengikuti perjalanan wisata kelompok untuk melatih kemampuan beradaptasi dengan orang-orang yang belum dikenalnya.
Menurutnya, pengalaman tersebut sangat membantu Sharfina ketika harus menjalani kehidupan selama lebih dari 40 hari di Tanah Suci.
Baca juga : Pemerintah Tambah Bantuan Beras 3 Bulan
Sebagai bagian dari persiapan, keluarga kembali mengajak Sharfina umrah pada 2023. Langkah itu dilakukan agar dia memiliki gambaran yang lebih segar mengenai ibadah di Makkah dan Madinah sebelum keberangkatan haji dua tahun kemudian.
Upaya tersebut membuahkan hasil. Saat menjalani umrah wajib maupun rangkaian ibadah haji tahun ini, Sharfina mampu mengikuti seluruh proses dengan baik, mulai dari ihram, tawaf, sa'i hingga kegiatan selama puncak haji.
Bahkan saat lempar jumrah Aqabah pada 10 Dzulhijjah, Sharfina ikut berjalan menuju Jamarat bersama keluarganya. Sementara pelaksanaan lempar jumrah pada hari-hari tasyrik dibadalkan oleh sang kakak demi menjaga kenyamanan dan keamanannya.
Untuk memastikan pengawasan tetap optimal di tengah kepadatan jemaah, keluarga menggunakan sabuk pengaman khusus yang menghubungkan Sharfina dengan ibunya selama tawaf dan sa'i. Ayah serta kakaknya selalu berada di belakang untuk mengawal setiap pergerakan.
Kini, setelah seluruh rangkaian ibadah utama selesai dijalani, kisah Sharfina menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk memenuhi panggilan Allah. Dengan persiapan yang matang, dukungan keluarga, serta layanan yang inklusif, penyandang disabilitas pun dapat menjalankan ibadah haji dengan aman, nyaman, dan bermartabat.(*)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.