BREAKING NEWS
 

BGN Hitung Ulang Anggaran MBG, Guru Besar IPB Tawarkan Menu Lokal Rp 7.000

Reporter & Editor :
OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Jumat, 7 Agustus 2026 18:28 WIB
Relawan menyiapkan makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polrestabes Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (5/8/2026). (Foto: Khairizal Anwar/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Badan Gizi Nasional (BGN) tengah menghitung ulang kebutuhan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) 2026 yang sebelumnya dialokasikan sebesar Rp 268 triliun.

Di tengah pembenahan tersebut, Guru Besar Ilmu Gizi IPB University Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, M.S. menawarkan pemanfaatan bahan pangan lokal sebagai salah satu cara menjaga kualitas menu MBG dengan biaya terjangkau.

Menurut Hardinsyah, makanan bergizi tidak selalu membutuhkan bahan pangan mahal.

Dengan komposisi menu dan pengadaan yang dikelola secara cermat, biaya bahan baku untuk satu porsi makanan anak sekolah dapat ditekan hingga sekitar Rp7.000.

“Kalau anak-anak itu 75 gram beras. Kalau harga beras Rp.15.000 sekilo, 100 gram cuma Rp 1.500. Kemudian kalau pakai telur, katakan Rp 2.000 satu butir,” ungkap Hardinsyah.

Menu tersebut kemudian dapat dilengkapi sayuran, buah, serta sumber protein nabati seperti tahu atau tempe.

Baca juga : SPPG Polrestabes Makassar Pastikan Kualitas Menu MBG

“Rp 1.500 ditambah Rp 2.000 itu Rp 3.500. Sayur Rp 500 jadi Rp 4.000, kemudian buah. Tapi telurnya tidak cukup, perlu tambah tahu atau tempe untuk protein nabatinya,” jelasnya.

Satu potong tempe berukuran sekitar 40-50 gram diperkirakan berharga Rp1.500. Setelah ditambah buah, total kebutuhan bahan baku diperkirakan berada di kisaran Rp 7.000 per porsi.

Namun, Hardinsyah mengingatkan, angka tersebut baru mencakup kebutuhan bahan pangan. Pelaksanaan MBG tetap membutuhkan biaya untuk bumbu, minyak, tenaga kerja, peralatan, pengelolaan dapur, hingga distribusi.

“Biaya yang mahal itu biasanya peralatan dan operasional tempatnya,” katanya.

Hardinsyah menilai, penggunaan bahan pangan lokal dapat menjadi salah satu kunci efisiensi program MBG. Setiap daerah memiliki sumber protein, sayuran, dan buah-buahan yang dapat dimanfaatkan tanpa bergantung pada produk impor.

Adsense

“Banyak sekali sayuran hijau di daerah. Tidak hanya bayam, kangkung, sawi, dan kol, tetapi banyak jenisnya, tergantung daerah,” ujarnya.

Baca juga : Pemerintah Sinergikan MBG, Dashat Dan Genting

Pemanfaatan bahan pangan lokal dengan rantai pasok yang lebih pendek juga dinilai dapat membantu menekan biaya distribusi dan menjaga kesegaran makanan.

Pada saat yang sama, langkah tersebut membuka peluang ekonomi bagi petani, peternak, nelayan, koperasi, serta pelaku UMKM di sekitar SPPG.

Kombinasi antara pembenahan tata kelola BGN, penyesuaian insentif SPPG agar lebih proporsional, dan optimalisasi bahan pangan lokal dinilai dapat menjadi salah satu jalan menjaga keberlanjutan program MBG.

Efisiensi anggaran, pada akhirnya, perlu ditempatkan sebagai upaya memperbaiki sistem tanpa mengurangi porsi, keamanan pangan, maupun kualitas gizi yang diterima anak.

Sebelumnya, Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari mengatakan, penghitungan kebutuhan anggaran masih berlangsung sehingga angka final belum dapat diumumkan.

“Kalau angka sementara ini mungkin saya belum bisa sebutkan, tapi yang jelas sudah tidak Rp 268 triliun, sudah jauh berkurang,” kata Agustina.

Baca juga : Untuk 63 Juta Penerima Manfaat, MBG Habiskan 101 T

Salah satu komponen yang dievaluasi adalah pemberian insentif SPPG sebesar Rp 6 juta per hari dengan nominal yang sama untuk setiap unit.

Menurut Agustina, skema tersebut belum mencerminkan perbedaan kapasitas layanan, jumlah penerima manfaat, maupun beban operasional masing-masing SPPG.

"Ada yang cakupannya lebih besar, kok disamaratakan Rp 6 juta? Kan nggak fair. Nah, itu skema-skema yang akan kami perbaiki,” jelasnya.

Dengan demikian, efisiensi tidak hanya dimaknai sebagai pengurangan anggaran, tetapi juga penataan belanja agar lebih proporsional, tepat sasaran, dan adil bagi setiap SPPG.

Penyesuaian biaya operasional juga perlu dipisahkan dari anggaran bahan pangan, agar tidak berdampak pada kualitas gizi penerima manfaat.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense