BREAKING NEWS
 

Mitigasi Bencana Harus Diperkuat

Pakar: Korban Gempa Flores Meninggal Akibat Bangunan Roboh

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Minggu, 16 Agustus 2026 09:40 WIB
Rumah warga roboh akibat gempa M7,7 Flores. (Foto: dok. BNPB)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pakar gempa sekaligus anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menekankan pentingnya mengambil pelajaran dari gempa tektonik bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8/2026). Menurutnya, peristiwa tersebut harus menjadi momentum untuk memperkuat strategi mitigasi bencana ke depan.

Mengacu pada data sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dirilis Sabtu (15/8/2026) pukul 18.48 WIB, sebanyak 47 orang meninggal dunia akibat gempa M7,7 Flores.

Selain korban jiwa, gempa tersebut menyebabkan 157 rumah rusak berat, 41 rumah rusak sedang, dan 148 rumah rusak ringan. Kerusakan juga terjadi pada 87 fasilitas pendidikan, 18 fasilitas kesehatan, lima tempat ibadah, enam kantor, serta sejumlah fasilitas umum lainnya.

Baca juga : Kekuatan Gempa NTT Melebihi Kolombia

“Korban luka dan meninggal ternyata bukan disebabkan oleh gempa, melainkan akibat bangunan roboh menimpa korbannya,” kata Daryono melalui platform X, Sabtu (15/8/2026) malam.

Daryono menuturkan, banyaknya bangunan yang rusak menunjukkan perlunya upaya nyata dan serius untuk mewujudkan bangunan yang tahan dan aman terhadap gempa.

“Jika tidak, setiap terjadi gempa kuat, masyarakat akan terus menjadi korban,” imbuhnya.

Baca juga : PLN Pulihkan 11 Gardu Induk Pascagempa M7,7 di Laut Flores

Daryono menegaskan, hingga saat ini gempa belum dapat diprediksi kapan dan di mana akan terjadi. Karena itu, yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana.

“Kapan akan terjadi gempa, kita belum mampu memprediksi, tetapi kita harus siap menghadapinya. Sosialisasi mitigasi, edukasi dan mewujudkan upaya nyata mitigasi gempa harus terus dilakukan secara berkesinambungan agar kita dapat hidup harmoni dengan alam,” tutur Daryono.

Kondisi Tanah dan Kualitas Bangunan 

Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB, sekaligus ahli gempa dan kadaster, Prof. Dr. Irwan Meilano ST MSc menerangkan, potensi kerusakan gempa tidak hanya dipengaruhi oleh magnitudo dan kedalaman gempa. Tetapi juga jarak dari sumber gempa ke permukiman, kondisi tanah, serta kualitas bangunan.

Adsense

Baca juga : Senayan Minta Pemerintah Percepat Langkah Mitigasi

"Pemahaman terhadap karakteristik gempa dan kesiapsiagaan menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko," ujar Prof. Irwan.

Secara khusus, Prof. Irwan menyoroti sekolah, fasilitas kesehatan, dan fasilitas pemerintahan. Menurutnya, infrastruktur tersebut memiliki peran penting, tidak hanya dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi juga dalam mendukung penanganan dan pemulihan setelah bencana.

“Ini kita sangat berharap bisa recover dalam waktu yang singkat, agar aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan,” katanya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense