Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kerja Sama dengan UI Gelar Kajian & Pelatihan Masyarakat
Harita Nickel bersama Pemerintah Malut Edukasi Warga Mitigasi Bencana
Jumat, 20 Februari 2026 08:08 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Maluku Utara dikenal memiliki pemandangan alam dan kekayaan bahari yang sangat mempesona. Gugusan pulau-pulau kecilnya sangat indah, berpasir kristal putih, laut jernih untuk snorkeling dan banyak keunikan geologinya.
Namun, di balik keindahannya, Maluku Utara menyimpan potensi bencana hidrometeorologi yang sangat besar. Pada semester pertama 2025, terjadi 76 kejadian bencana hidrometeorologi basah.
Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda mengungkapkan, pendangkalan aliran sungai yang diperparah dengan sistem drainase yang belum memadai menjadi pemicu utama terjadinya banjir di lokasi-lokasi tersebut.
Menyadari hal tersebut, Harita Nickel berkomitmen untuk berperan aktif mengantisipasi dan tanggap bencana, khususnya di Pulau Obi, yang menjadi wilayah kerja perusahaan tambang dan hilirisasi nikel terintegrasi ini.
Baca juga : KUHP Baru Tinggalkan Paradigma Balas Dendam
Harita mempersiapkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana alam melalui pelatihan dan simulasi yang diselenggarakan di Desa Kawasi, Halmahera Selatan, 19 Desember 2025. Juga bekerjasama dengan Universitas Indonesia, melakukan kajian pengelaan bencana di area operasional.
Warga Kawasi mengikuti Simulasi Tanggap Bencana yang diselenggarakan Harita Nickel. (Foto: Dok. Harita Nickel)
Kajian tersebut diselenggarakan Harita dan UI dengan tema “Pengelolaan Bencana di Industri Nikel Pulau Obi” bersamaan dengan peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional (BK3N). Tema diskusi mengenai penguatan kapasitas sumber daya manusia dalam mendukung penerapan sistem Manajemen K3 (SMK3).
Baca juga : Pertamina Patra Niaga Pastikan Pasokan BBM Tetap Andal di Tengah Bencana
Diskusi menghadirkan pakar kebencanaan Prof Dra Fatma Lestari, MSi, PhD, Ketua Disaster Risk Reduction Center (DRRC) Universitas Indonesia dan Wakil Ketua Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional (DK3N).
Saat ini, banyak lokasi industri di Indonesia yang berada di wilayah rentan bencana. Secara rinci, sebanyak 57 persen industri berada di kawasan dengan dengan risiko bencana sedang, sementara 43 persen berada di wilayah dengan risiko bencana tinggi.
Oleh karena itu, penting adanya pemahaman terhadap potensi risiko dan langkah-langkah membangun kesiapsiagaan.
“Harita Nickel berada di jalur yang tepat dengan sertifikasi K3 dan peningkatan kapasitas karyawan dalam penerapan SMK3,” ujar Prof Fatma.
Baca juga : Presiden Gelar Taklimat di Hambalang: Pemerintah Tak Gentar Hadapi Serangan Fitnah
Occupational Health and Safety Manager Harita Nickel, Supriyanto Suwarno, mengatakan komitmen perusahaan terhadap K3 telah mendapatkan sertifikasi dari lembaga bertaraf internasional, SGS Indonesia. Hal tersebut dibuktikan dengan diterbitkannya sertifikat ISO 45001: 2018 untuk ketiga unit bisnis yang mengoperasikan pabrik pengolahan dan pemurnian nikel yakni PT Halmahera Persada Lygend, PT Halmahera Jaya Feronikel dan PT Megah Surya Pertiwi dan unit bisnis pertambangan di bawah PT Trimegah Bangun Persada Tbk.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya