RM.id Rakyat Merdeka - Bilik suara pada Sidang Pleno IV Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, telah menjadi saksi kuatnya akar tradisi musyawarah kaum nahdliyin.
Dari proses tabulasi yang transparan, nama KH Miftachul Akhyar menempati urutan keempat dengan raihan 350 suara atau sekitar 7,4 persen. Kepercayaan muktamirin ini kembali mengantarkannya ke dalam jajaran Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa).
Secara sederhana, Ahwa adalah dewan khusus yang berisi sembilan kiai sepuh untuk memusyawarahkan dan menentukan siapa pemimpin tertinggi atau Rais Aam PBNU.
Baca juga : Profil 9 AHWA Muktamar NU Ke-35 (3): AGH Baharuddin HS, Ulama Kaligrafer
Masuknya kembali nama Kiai Miftach—sapaan akrabnya—ke dalam formatur Ahwa bukanlah hal yang mengejutkan. Pada Muktamar ke-34 sebelumnya, ia juga masuk dalam majelis ini dan bahkan didaulat menjadi Rais Aam PBNU masa khidmah 2022-2027.
Ulama kelahiran Surabaya tahun 1953 ini memang memiliki darah biru keulamaan yang kental. Ia merupakan anak kesembilan dari tiga belas bersaudara, lahir dari keluarga kiai pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah, KH Abdul Ghoni, sosok kiai yang sangat masyhur dengan keluhuran akhlaknya dalam memuliakan tamu.
Pengembaraan intelektual Kiai Miftach ditempuh dengan mengaji di sejumlah pesantren legendaris di tanah Jawa. Genealogi keilmuannya merentang dari Pondok Pesantren Tambakberas Jombang, Pesantren Sidogiri Pasuruan, hingga Pesantren Lasem di Jawa Tengah.
Baca juga : Profil 9 AHWA Muktamar NU Ke-35 (2): Waled NU, Pengayom Yatim Dan Santri Aceh
Kedalaman ilmu agamanya semakin matang saat ia tergabung dalam Majelis Ta'lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Makki Al-Maliki di Malang. Berbekal keilmuan yang mumpuni dan pembacaan sosial yang tajam terhadap lingkungan sekitarnya, Kiai Miftach membulatkan tekad mendirikan Pondok Pesantren Miftachus Sunnah di kawasan padat penduduk Kedung Tarukan, Surabaya.
Kiprah Kiai Miftach di struktur jamiyah Nahdlatul Ulama terukir sangat rapi dan berjenjang. Rekam jejak kepemimpinannya dimulai dari bawah, menjabat sebagai Rais Syuriyah PCNU Surabaya pada tahun 2000 hingga 2005.
Kariernya terus melesat naik menakhodai Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur selama dua periode, hingga ditarik ke tingkat pusat sebagai Wakil Rais Aam PBNU pada 2015. Saat krisis kepemimpinan terjadi, ia bahkan dipercaya sebagai Pejabat (Pj) Rais Aam sebelum akhirnya didefinitifkan.
Baca juga : Profil 9 AHWA Muktamar NU Ke-35 (1): KH Nurul Huda Djazuli, Sang Pengampu Ngaji
Meski sibuk mengurus umat di tingkat nasional, alumni Tambakberas ini tidak pernah meninggalkan kewajibannya mengaji, membina santri lewat rutinitas kajian kitab Al-Hikam karya Ibnu 'Athaillah Sakandari setiap bakda shalat Jumat.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.