BREAKING NEWS
 

Karhutla Kalimantan, Gambaran Satelit NASA

Langit Indonesia Ditutupi Asap Tebal

Reporter : BHAYU AJI PRIHARTANTO
Editor : UJANG SUNDA
Sabtu, 5 September 2026 08:34 WIB
Citra salet NASA atas karhutla yang terjadi di Kalimantan. (Foto: Dok. NASA)

RM.id  Rakyat Merdeka - Langit di Kalimantan diselimuti asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Fenomena ini terekam satelit Aqua milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) pada 1 September 2026.

Citra satelit itu memperlihatkan lapisan putih keabu-abuan menutupi sebagian wilayah Kalimantan. Kepulan asap juga tampak bergerak melintasi perbatasan Indonesia hingga mencapai wilayah Malaysia.

Dalam citra satelit tersebut juga terlihat ratusan titik merah terlihat tersebar di sejumlah wilayah Kalimantan. Titik itu merupakan deteksi anomali panas yang ditangkap instrumen Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) pada satelit Aqua dan menjadi indikasi adanya aktivitas kebakaran.

"Api membara di Indonesia, yang tengah mengalami kekeringan parah dan meluas. Sebagian di antaranya merupakan kebakaran lahan gambut tropis yang terbakar perlahan, menghasilkan polusi udara lebih tinggi, dan sangat sulit dipadamkan," tulis NASA Earth dalam akun X-nya.

NASA menjelaskan, satu titik merah tidak selalu menunjukkan satu lokasi kebakaran. Satu kebakaran dapat menghasilkan sejumlah deteksi, karena setiap titik menggambarkan piksel yang mengalami anomali termal.

Baca juga : Soroti Situasi Global, Prabowo: Kami Tak Masuk Aliansi Militer Mana Pun

Karhutla menjadi semakin sulit dikendalikan ketika terjadi di lahan gambut. Saat gambut mengering akibat kekeringan, api dapat menjalar hingga ke lapisan bawah tanah dan membara dalam waktu lama.

Kebakaran gambut juga menghasilkan asap dan polutan dalam jumlah besar. Api yang membara di bawah permukaan tidak selalu terlihat dari luar, tetapi dapat terus menyebar hingga hujan turun dan membasahi kembali lapisan gambut.

Peneliti Universitas Columbia Robert Field mengatakan, peningkatan aktivitas kebakaran tahun ini menunjukkan pola yang mengkhawatirkan. Menurut dia, kondisi tersebut memiliki kemiripan dengan musim kebakaran besar pada 2015.

"Indonesia baru memasuki musim kebakaran sekitar tiga pekan, tetapi kita melihat aktivitas kebakaran meningkat tajam, mirip dengan tahun 2015," ujar Field, seperti dilansir situs earthdata.nasa.gov, Jumat (4/9/2026).

Adsense

Pada 2015, kebakaran yang berlangsung lebih dari tiga bulan menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam jumlah sangat besar. NASA memperkirakan hingga 2 September 2026, kebakaran yang terjadi di Indonesia telah menghasilkan emisi sekitar 10 persen dari jumlah emisi yang dilepaskan selama musim kebakaran 2015.

Baca juga : Kunjungi Jokowi Di Solo, PM Timor Leste Disuguhi Kwetiau & Onde-onde

Dalam kondisi normal, kawasan gambut di Kalimantan, Sumatera, dan Papua relatif basah. Namun, ketika kekeringan terjadi, kondisi tersebut berubah sehingga gambut dapat terbakar hingga lapisan bawah tanah. "Kebakaran permukaan kurang menjadi masalah, tetapi ketika api mencapai bawah tanah, api tidak akan berhenti," kata Field.

Pemerintah Indonesia memanfaatkan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau titik panas secara real-time. Data dari MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) digunakan dalam sistem pemantauan kebakaran, termasuk melalui platform SiPongi milik Kementerian Kehutanan.

Data SiPongi mencatat, 946 titik api pada 31 Agustus 2026. Namun, angka tersebut tidak selalu menggambarkan kondisi kebakaran sebenarnya. Asap tebal dan awan dapat menghalangi sensor satelit mendeteksi api. Begitu pula kebakaran yang berlangsung di bawah kanopi hutan atau di dalam lapisan gambut.

Kepala Bagian Pelayanan dan Penyajian Informasi Publik, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Agus Yasin menyatakan, pihaknya memahami perhatian yang muncul setelah NASA mempublikasikan citra satelit yang memperlihatkan sebaran asap dan deteksi aktivitas karhutla di Kalimantan.

Yasin menyatakan, citra tersebut merupakan informasi penting untuk melihat kondisi secara makro. “NASA juga menjelaskan bahwa titik merah pada citra merupakan deteksi anomali termal yang mengindikasikan aktivitas kebakaran, bukan secara langsung menunjukkan luas area terbakar. Satu kebakaran dapat menghasilkan lebih dari satu deteksi,” ujarnya, dalam keterangan resmi, Jumat (4/9/2026).

Baca juga : Setelah Sidoarjo, Muncul Di Lasem Dan Toraja

Menurutnya, kebakaran gambut memiliki karakteristik khusus karena dapat membara di bawah permukaan dan membutuhkan penanganan yang berbeda. Karena itu, Pemerintah terus melakukan pemantauan, pencegahan, dan penanganan karhutla secara terpadu bersama Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah, aparat, dan para pihak.

“Data satelit menjadi salah satu instrumen penting dalam pemantauan tersebut. Namun, penilaian kondisi kebakaran, luas area terdampak, dan perkembangan penanganannya tetap dilakukan dengan menggabungkan data pemantauan dan verifikasi lapangan,” terangnya.

Kemenhut telah menerjunkan Manggala Agni untuk terus memperkuat upaya penanganan sesuai kondisi di lapangan, termasuk pada wilayah yang memiliki tantangan kebakaran gambut. Ia menerangkan, setiap hari, Kemenhut menyampaikan pembaruan hotspot dan penanganan karhutla di website dan kanal media sosial resmi.

“Masyarakat yang menemukan indikasi kebakaran hutan dan lahan atau kemunculan asap bisa segera melaporkannya melalui Posko Karhutla Kementerian Kehutanan di telepon: 021-5704618 atau +62 8131-00-35000, dan Email: posko.karhutla@kehutanan.go.id,” tutupnya. BYU/MEN

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense