BREAKING NEWS
 

Abu Vulkanik Dan Ancaman Kesehatan Yang Tidak Boleh Diabaikan

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Minggu, 6 September 2026 17:44 WIB
Guru Besar Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ari Fahrial Syam. (Foto: dok UI)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pagi ini, Jabodetabek menjadi salah satu daerah yang terdampak akibat letusan Anak Gunung Krakatau. Sebagian warga terdampak telah melaporkan keluhan seperti mata perih, kulit gatal, dan sesak napas.

Dampak abu vulkanik terhadap kesehatan masyarakat, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, harus menjadi perhatian bersama.

Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Partikel-partikel yang beterbangan dapat langsung mengenai mata dan kulit, serta terhirup ke dalam saluran pernapasan.

Paparan pada mata dapat menyebabkan mata perih, merah, dan berair. Pada kulit dapat timbul rasa gatal dan iritasi. Sementara itu, ketika partikel terhirup, masyarakat dapat mengalami batuk, rasa tidak nyaman di tenggorokan, hingga sesak napas.

Hal yang perlu dipahami, dampak terhadap saluran pernapasan tidak selalu berhenti pada keluhan yang muncul saat paparan terjadi.

Gangguan Pernapasan Dapat Muncul Belakangan

Partikel yang terhirup dapat bertahan di dalam sistem pernapasan dan menimbulkan proses iritasi serta peradangan. Karena itu, masyarakat yang merasa sehat beberapa hari setelah terpapar abu vulkanik tidak boleh langsung menganggap bahwa risiko sudah berlalu.

Gangguan saluran pernapasan bawah dapat muncul kemudian, termasuk dalam satu hingga dua minggu setelah paparan.

Di sisi lain, hingga saat ini erupsi masih terjadi.

Apabila setelah terpapar abu seseorang mengalami batuk yang semakin berat, demam, sesak napas, nyeri dada, atau kondisi fisiknya memburuk, pemeriksaan medis harus segera dilakukan. Kondisi tersebut dapat mengindikasikan adanya gangguan kesehatan yang lebih serius, termasuk kemungkinan infeksi pada paru-paru.

Baca juga : Terpapar Abu Vulkanik Krakatau, Warga Jakarta Diimbau Segera ke Faskes

Bagaimana Dengan Silika?

Persoalan lain yang perlu diperhatikan adalah kandungan material dalam abu vulkanik.

Salah satu pertanyaan penting adalah apakah terdapat silika dalam bentuk dan konsentrasi yang berpotensi membahayakan kesehatan paru. Paparan silika respirabel yang signifikan dan berlangsung dalam jangka panjang dapat menyebabkan silikosis, yaitu penyakit paru akibat penumpukan partikel silika yang menyebabkan peradangan dan pembentukan jaringan parut pada paru-paru.

Abu vulkanik Anak Krakatau sebelumnya diketahui mengandung senyawa silika. Penelitian terhadap material dari erupsi sebelumnya menunjukkan kandungan SiO₂ yang cukup signifikan. Namun, untuk mengetahui kadar silika, khususnya silika kristalin yang dapat terhirup, pada erupsi kali ini, diperlukan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel abu yang sedang turun.

Dalam jangka panjang, paparan tersebut dapat mengakibatkan penurunan fungsi paru.

Namun, risiko ini tentu bergantung pada komposisi abu, ukuran partikel, konsentrasi yang terhirup, serta intensitas dan lamanya paparan. Karena itu, analisis terhadap kandungan abu vulkanik menjadi penting untuk menilai risiko kesehatan secara lebih tepat.

Dampak erupsi terhadap kesehatan sebenarnya jauh lebih luas.

Kita juga harus mempertanyakan bagaimana kondisi sumber air bersih yang terkena abu. Apakah air tersebut masih aman digunakan? Bagaimana dengan tanaman dan hewan yang terpapar material vulkanik?

Adsense

Persoalan-persoalan tersebut pada akhirnya dapat kembali berhubungan dengan kesehatan manusia.

Karena itu, penanganan bencana vulkanik membutuhkan pendekatan lintas sektor. Tenaga kesehatan, ahli lingkungan, ahli vulkanologi, Pemerintah daerah, serta berbagai pihak terkait perlu bekerja bersama untuk menilai dampaknya secara menyeluruh.

Baca juga : Waspada Abu Vulkanik, Dinkes DKI Imbau Warga Kurangi Aktivitas di Luar

Surveilans Kesehatan Harus Dilakukan

Setelah terjadi erupsi besar, menurut saya perlu dilakukan survei kesehatan dan observasi secara terus-menerus, terutama melalui fasilitas pelayanan kesehatan.

Data mengenai penyakit yang muncul setelah bencana harus dikumpulkan dengan baik.

Apakah terjadi peningkatan kasus ISPA? Apakah ditemukan lebih banyak pasien asma yang mengalami kekambuhan? Bagaimana dengan pneumonia, penyakit kulit, iritasi mata, diare, maupun penyakit infeksi lainnya?

Data tersebut penting bukan hanya untuk menangani bencana yang sedang berlangsung, tetapi juga menjadi pembelajaran untuk menghadapi erupsi berikutnya.

Situasi seperti ini juga merupakan sumber stres yang besar. Kita dapat melihat di media sosial begitu banyak pertanyaan mengenai dampak paparan abu vulkanik terhadap tubuh manusia.

Oleh karena itu, penanganan kesehatan pascabencana harus mencakup kesehatan fisik sekaligus psikologis.

Pencegahan Tetap Yang Utama

Selama abu vulkanik masih berada di udara, masyarakat harus berusaha mengurangi paparan sebanyak mungkin.

Aktivitas di luar ruangan sebaiknya dibatasi ketika konsentrasi abu tinggi. Perlindungan mata dan saluran pernapasan perlu digunakan. Penggunaan masker yang baik menjadi penting ketika berada di luar rumah.

Baca juga : Abu Vulkanik Berbahaya Bagi Jantung dan Pembuluh Darah, Ini Penjelasan Ahli

Kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, serta mereka yang memiliki asma atau penyakit paru kronis, harus mendapat perhatian khusus dan sebaiknya tidak berada di luar rumah selama paparan abu masih tinggi.

Pembersihan abu juga harus dilakukan dengan hati-hati agar material yang sudah mengendap tidak kembali beterbangan dan terhirup.

Yang tidak kalah penting, kewaspadaan jangan berhenti ketika erupsi telah mereda.

Dampak bencana terhadap kesehatan tidak selalu berakhir ketika abu berhenti turun. Sebagian masalah dapat muncul beberapa hari atau minggu kemudian, sementara dampak paparan tertentu dalam jangka panjang membutuhkan perhatian lebih lanjut.

Karena itu, setelah menyelamatkan masyarakat dari ancaman langsung erupsi, tugas berikutnya adalah memastikan mereka tetap sehat setelah bencana.

Kita berharap seluruh warga yang mengalami gangguan kesehatan segera mendapatkan penanganan, sementara masyarakat terdampak dapat terhindar dari masalah kesehatan lebih lanjut.

Oleh: Ari Fahrial Syam
Penulis adalah Guru Besar Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense