Sebelumnya
Peneliti Pusat Kajian Antikorupsi Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (Pukat UGM), Zaenur Rohman menduga adanya kebocoran informasi dalam rencana KPK melakukan penggeledahan. Hal ini bisa terjadi, mengingat masa penggeledehan di masing-masing tempat terdapat jeda waktu yang cukup panjang.
“Mengapa terdapat jeda waktu yang panjang. Sehingga, ketika dilakukan penggeledahan, tidak ditemukan bukti apapun,” sebutnya, Sabtu (10/4).
Ketua Dewan Pengawas KPK, Tumpak Panggabean meminta info dugaan adanya kebocoran info harus diusut. “Ya, harus diusut,” kata Tumpak kepada wartawan, Sabtu (10/4)
Baca juga : Protes Soal Xinjiang, China Blurkan Merek Produk Barat
Tumpak mengatakan dibutuhkan informasi awal terlebih dahulu mengenai dugaan kebocoran ini, termasuk siapa yang membocorkan. “Namun tentunya perlu ada informasi-informasi awal tentang siapa yang membocorkan,” tandasnya.
Sebelumnya, tim penyidik KPK juga sudah menggeledah PT Jhonlin Baratama pada Kamis (18/3), serta tiga kediaman dari pihak-pihak yang terkait dengan kasus tersebut. Dari sana, tim juga mengamankan sejumlah dokumen dan barang elektronik.
Selain PT Jhonlin Baratama, KPK juga sudah menggeledah kantor Pusat PT Bank Pan Indonesia atau Bank Panin di Jakarta Pusat, Selasa (23/3), dan Kantor pusat PT GMP(Gunung Madu Plantation), Lampung Tengah, Lampung, Kamis (25/3) lalu.
Baca juga : Turki Vs Belanda, Cahaya Bulan Sabit Terancam Pudar
Sulitnya KPK mengungkap kasus ini membuat istilah Cicak vs Buaya kembali mengemuka. Meskipun kali ini, lawan KPK adalah korporasi raksasa.
Kordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI), Boyamin Saiman mengamini, kasus yang ditangani KPK saat ini adalah perkara kelas kakap. Potensi kasusnya mirip seperti tragedi Cicak vs Buaya. Meskipun bukan polisi, lawan KPK saat ini adalah pengusaha yang punya jaringan cukup luas, sehingga informasi soal korupsi di perusahaannya mudah bocor.
“Saya berharap betul ini tidak mengulang sejarah Cicak vs Buaya, karena ini prinsipnya adalah perusahaan swasta,” jelas Boyamin kepada Rakyat Merdeka, kemarin. [UMM]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.