Sebelumnya
Prosesi ibadah haji lainnya, beber Zahir, juga ditunjukkan saat melempar jumrah. Yang awalnya merupakan perlawanan Nabi Ibrahim dan keluargnya saat melempari setan, karena berupaya menghalangi mereka untuk patuh kepada Tuhan.
Baca juga : Bantu Masyarakat, AHM Salurkan Bantuan Sembako-Hewan Kurban
Karena itu, jelasnya lagi, berhaji tanpa makrifat, tapi hanya menekankan pada sisi formalitas, tak ubahnya hanya memicu kebisingan semata. Zahir juga mengingatkan kata-kata cucu Rasulullah Ali Zainal Abidin As-Sajjad, ketika sahabatnya kagum dengan banyaknya jamaah haji.
Baca juga : Hanzi, Tulisan Asli Mandarin Asyik Dikenalkan Pada Anak Sejak Dini
“Tapi kata Ali, alangkah banyaknya mereka yang menimbulkan kebisingan, namun alangkah sedikitnya mereka yang benar-benar melaksanakan ibadah haji!” kutipnya.
Baca juga : Masjid Di Zona Merah Di Jakarta Utara, Tidak Laksanakan Shalat Jumat
Intinya, kata Zahir, melaksanakan ibadah haji tanpa memahami esensinya, berarti hanya memperhatikan syarat keabsahannya saja, namun malah mengabaikan syarat penerimaan. “Hanya memperhatikan aspek horizontal, bukan aspek vertikal. Padahal, Allah hanya menerima ibadah orang yang bertakwa, seperti kata surah Al-Maidah ayat 27,” ingatnya. [RSM]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.