Sebelumnya
The Lost Productive Generation
Mari bayangkan jika dalam situasi ini, kesadaran untuk menjaga asupan makanan yang bergizi dan dibatasi untuk diabaikan, dalam tiga atau lima tahun lagi, akan banyak kantor atau perusahaan yang kehilangan pekerjanya. Kita terancam di mana para pekerja produktif itu menjadi tidak produktif lagi karena kesehatannya tidak berkelanjutan.
Baca juga : Hadapi Gelombang Pandemi, Disiplin Prokes Harga Mati
Inilah yang bisa kita sebut sebagai the lost productive generation. Meski ada, misalnya yang diasuransikan, namun itu bukan berarti masalah kehilangan pekerja produktif terselesaikan. Sebab inti dari permasalahan bukan pada hilir, namun pada hulunya.
Di sinilah kita semua perlu mengevaluasi ulang secara lebih mendalam mengenai kebijakan WFH itu sebelum semuanya terlambat. Misalnya, semua yang melakukan WFH wajib melakukan aktivitas pembatasan camilan, bergerak setiap berapa jam untuk perenggangan otot yang itu terpantau secara daring dan autonomos.
Baca juga : Pembenah Tanah Organik Tingkatkan Produktivitas Sayuran
Di era 4.0 ini, untuk mengawasi hal-hal seperti yang disebutkan di atas bukan merupakan hal sulit. Kantor atau perusahaan memang harus melakukan investasi untuk membuat produk tersebut. Namun bisa dipastikan bahwa meski investasinya tidak kecil, tetapi paling tidak ruang-ruang produktif itu tidak menghadapi masalah the lost productive generation. [*]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.