Redaktur
RM.id Rakyat Merdeka - Dua November enam tahun lalu, kedua anak saya lahir. Mereka hadir di dunia saat neneknya berpulang.
Tepat saat saya membacakan Surah Yasin di depan jenazah mamah tercinta, telepon berdering. Nenek istri saya mengabarkan bahwa kedua anak kami lahir dengan selamat dan sehat. Tak kuasa, air mata mengalir deras. Tubuh saya lemas. Entah, harus sedih atau gembira mendengar kabar ini di depan jenazah mamah tercinta.
Para saudara menyanggah tubuh saya yang lunglai. Ada yang memberi minum dan mencoba membasuh keringat yang bercucuran di tengah udara dingin kampung halaman.
Baca juga : Bali Jadi Kota Mati
Saat memasukkan jenazah mamah ke liang lahat, air mata kembali tak tertahan. Namun, azan tetap harus dikumandangkan. Satu kali tarikan azan, dua pihak yang diazani. Mamah tercinta dan kedua anak saya melalui saluran telepon.
Di tengah kesedihan dan di penghujung azan, saya berpesan kepada kedua anak saya yang baru lahir. “Kuntum khaira ummatin ukhrijat linnsas, ta’muruna bil ma’ruf wa tanhauna a’nil munkar (Kalian adalah umat terbaik yang diturunkan untuk manusia. Menyeru kepada kema’rufan dan mencegah kemunkaran)”
Kini, usia kedua anak saya sudah enam tahun. Saya jadi teringat pesan Nabi Muhammad kepada Abdullah bin Abbas. “Ya Ghulam, maukah kau mendengar beberapa kalimat yang sangat berguna?" tanya Rasulullah suatu ketika pada seorang pemuda kecil itu.
Baca juga : Lebih Nyaman Dagang Malam
Abdullah pun termangu di depan Rasulullah. Ia memusatkan perhatian pada setiap patah kata yang keluar dari bibir manusia paling mulia itu. “Jagalah (ajaran-ajaran) Allah, niscaya kamu akan mendapatkan-Nya selalu menjagamu. Jagalah (larangan-larangan) Allah, maka kamu akan mendapati-Nya selalu dekat di hadapanmu. Kenalilah Allah dalam sukamu, maka Allah akan mengenalimu dalam duka. Bila kamu meminta, mintalah kepada-Nya. Jika kamu butuh pertolongan, mohonlah hanya kepada-Nya.”
Ketahuilah nak, walau semua umat sepakat untuk membantumu, itu takkan pernah terjadi kecuali itu takdirmu. Walaupun seluruh umat sepakat untuk mencederaimu, itu juga takkan pernah terjadi kalau itu bukan takdirmu. Jangan pernah takut dengan siapa pun.
Kenali Allah saat lapang, nanti Allah akan mengenalmu saat kalian sempit. Pertolongan datang karena kesabaran. Solusi datang bersama kesulitan.
Baca juga : Takziah Ke Rumah Pakde
Nak, saat itu pemuda kecil yang bersama Nabi mungkin seumuran kalian. Ayahmu berharap kalian bisa memahami hadits ini. Tumbuh menjadi seorang lelaki berkepribadian hebat, tanpa ada rasa takut dengan makhluk, memiliki keberanian sepanas sinar matahari gurun. Dan memiliki kasih seperti oase di tengah sahara. Aamiin…ya Rabbal A’lamiin.. [Shahih Qardhavi/Reporter Rakyat Merdeka]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.