RM.id Rakyat Merdeka - Kinerja PT Pertamina Hulu Energi (PHE) tercatat positif dengan berkontribusi pertumbuhan produksi migas sebesar 7 persen. Ini capaian yang harus disyukuri bersama.
"Capaian PHE ini adalah capaian menggembirakan, meski kita tahu proses yang dilalui tidaklah mudah," terang Anggota Komisi VI DPR Intan Fauzi kepada wartawan, Senin (26/6).
Dalam Sosialisasi bersama mitra kerja Komisi VI DPR, yaitu PHE di Kelurahan Jatimekar, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, Sabtu (17/6), Intan menyebutkan PHE selaku Subholding Upstream berperan sebagai kontributor utama produksi migas nasional.
Tercatat, PHE memberikan kontribusi sebesar 68 persen produksi minyak nasional dan 34 persen produksi gas nasional.
Baca juga : Maarif Institute Apresiasi Kapolri Yang Selalu Berusaha Dekat Rakyat
Intan merujuk data Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Menurutnya, bauran komposisi energi akan berubah perlahan hingga tahun 2050. Energi Baru Terbarukan (EBT) diperkirakan akan mendominasi kebutuhan energi nasional.
"Volume kebutuhan akan energi fosil pun akan terus meningkat, sehingga PHE sebagai kontributor utama harus konsisten menjalankan proses bisnis berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional," jelasnya.
Menurut Intan, untuk memenuhi kebutuhan energi nasional, PHE telah menjalankan tiga strategi utama.
Pertama, untuk melawan laju penurunan alamiah di wilayah kerja eksisting, PHE melakukan pengeboran sumur pengembangan dan perawatan sumur.
Baca juga : Relawan Sintawati Bagi-Bagi Sembako Di Jakarta Pusat
Kedua, PHE juga melakukan pengeboran sumur eksplorasi untuk mencari potensi cadangan baru untuk menjaga keberlanjutan bisnis.
Ketiga, PHE menjalankan akuisisi di wilayah kerja baru dengan bekerja sama melalui partner dan melakukan ekspansi.
Selanjutnya, kata Intan, dalam rangka mendukung Green Strategy PT Pertamina (Persero), PHE berupaya melakukan berbagai macam program dekarbonisasi. Salah satunya melalui pemanfaatan sumber energi gas sebagai energi transisi yang rendah emisi dan ramah lingkungan.
Hal ini tercermin dari proyek gas yang telah diresmikan oleh Wakil Presiden pada 2022, yaitu Proyek Strategis Nasional pengembangan lapangan unitisasi Jambaran-Tiung Biru (JTB) di Jawa Timur, dan temuan potensi cadangan gas melalui pengeboran sumur eksplorasi di beberapa wilayah Indonesia.
Baca juga : Nelayan Ganjar Gelar Edukasi Dan Konservasi Pantai Di Jember
Seluruh strategi yang dijalankan memiliki kebutuhan pendanaan yang tidak sedikit, sehingga PHE perlu mendapatkan dukungan dari berbagai aspek. Antara lain, pendanaan dan langkah-langkah investasi yang transparan agar kegiatan operasional bisa berjalan lancar menjaga ketahanan energi nasional.
"Negara kita merupakan negara net importir minyak. Produksi minyak dalam negeri belum bisa memenuhi kebutuhan minyak nasional, sehingga diperlukan komitmen pemenuhan target produksi minyak nasional," jelas Intan.
Dengan tersedianya investasi, baik melalui pasar keuangan maupun partnership, maka PHE dapat berkembang dan menjaga keberlanjutan hulu migas nasional. Diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan migas dalam negeri.■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.