Sebelumnya
Hal senada dilontarkan anggota Komisi X DPR Desy Ratnasari. Desy bersyukur, sudah makin banyak guru yang menunjukkan kemampuan menulis dalam jurnal ilmiah. Hal ini sangat penting dalam upaya meningkatkan indeks literasi di kalangan guru dan pendidik. “Alhamdulillah guru-guru sudah bisa mensubmit 1.680 artikel,” kata dia.
Desy menilai, angka ini terbilang besar walau artikel ini berasal dari guru-guru yang berada di bawah naungan Kementerian Agama. Kendati yang mampu terpublikasikan dalam 12 jurnal Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang terindeks di Science and Technology Index (SINTA) baru sebanyak 100 artikel.
Baca juga : Garuda Indonesia Dinobatkan Sebagai Mega Company Turnaround
Menurutnya, diperlukan evaluasi penyebab para guru-guru madrasah tersebut hanya mampu mempublikasikan 100 artikel saja di jurnal SINTA. Apa yang menjadi kelemahan dari para guru tersebut . “Karena bagi saya, menulis adalah bagian literasi,” ujarnya.
Makanya, dia menyayangkan jika Kemendikbudristek kemudian berkeinginan menghapus kewajiban menulis skripsi bagi mahasiswa sebagai syarat lulus sarjana. Kebijakan ini tidak sejalan dengan upaya meningkatkan indeks literasi bangsa ini yang jauh tertinggal.
Baca juga : Indonesia Darurat Pornografi, Literasi Digital Wajib Diperkuat
“Orang Indonesia itu nggak suka baca. Kemudian nggak ada skripsi, tambah nggak akan baca,” terangnya.
Makanya, anggota Fraksi PAN ini menilai, syarat menulis skripsi tetap penting. Dengan adanya skripsi, mahasiswa akan dipaksa menulis yang tentunya berdasar dari referensi yang diperoleh dari membaca.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.