BREAKING NEWS
 

Ketua MPR Ingatkan Tantangan Indonesia di Usia ke-79 Tahun Makin Rumit dan Beragam

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Jumat, 16 Agustus 2024 21:59 WIB
Ketua MPR Bambang Soesatyo (Foto: Dok. MPR)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua MPR sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengingatkan, memasuki usia kemerdekaan yang ke-79, tantangan bangsa Indonesia ke depan semakin banyak dan perlu disikapi bersama. Untuk itu, keadilan sosial sebagai nilai fundamental Pancasila harus melandasi semua kebijakan dan perilaku penyelenggara negara. Baik dalam bidang politik, ekonomi, hukum, maupun keamanan dan sosial budaya.

Kata Bamsoet, masih banyak pekerjaan rumah ke depan. Pemerataan dan keadilan belum sepenuhnya dapat dirasakan oleh seluruh elemen masyarakat, dari Sabang hingga Merauke. Sayup-sayup masih terdengar aspirasi rakyat yang menyuarakan kerinduan akan kedamaian, keadilan, dan kesejahteraan. Rakyat Indonesia mendambakan sebuah negara yang tidak hanya berkembang dari segi ekonomi, tetapi juga dalam aspek moralitas dan integritas.

"Rakyat kita mengharapkan agar pemerintah dapat menghadirkan kebijakan yang memperhatikan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat. Termasuk mereka yang berada di garis depan perjuangan melawan kemiskinan dan ketidakadilan. Rakyat mendambakan sistem hukum dan pemerintahan yang benar-benar adil, inklusif, yang setiap individu, kelompok dan golongan, mendapatkan kesetaraan hak dan kewajiban, tanpa diskriminasi," ujar Bamsoet, dalam pidato di Sidang Tahunan MPR 2024, di Kompleks Parlemen Jakarta, Jumat (16/8/2024).

Baca juga : Selamatkan Ekonomi dan Perdagangan Indonesia, Indef Usul Batalkan BMAD

Ketua DPR ke-20 ini menjelaskan, meningkatnya populasi penduduk dunia khususnya di Indonesia, akan membutuhkan daya dukung bahan pangan yang lebih besar. Pada saat bersamaan, sektor pertanian sebagai penopang ketahanan pangan, justru menghadapi beragam tekanan. Mulai dari makin sempitnya lahan pertanian, stagnasi produksi, meningkatnya frekuensi hama dan penyakit tumbuhan, makin mahalnya biaya produksi, serta ancaman perubahan iklim.

"Untuk menghindari risiko krisis pangan di masa yang akan datang, kita perlu menyiapkan strategi besar untuk menciptakan kedaulatan pangan Indonesia. Bukan sekadar ketahanan pangan, yang acap kali mengandalkan impor bahan-bahan pangan dari luar negeri," kata Bamsoet.

Adsense

Ketua Dewan Pembina Depinas SOKSI ini memaparkan, ketahanan keamanan siber di Indonesia juga masih perlu peningkatan. Ini terkait juga dengan kasus peretasan data nasional yang mengisyaratkan urgensi ketersediaan lembaga pemerintah yang berfokus pada keamanan siber, termasuk peraturan hukum. Indonesia menurut National Cyber Security Index, masih menempati posisi kelima di Asia Tenggara dalam hal keamanan siber.

Baca juga : Pengganti Usman Kansong Dari Kalangan Media, Budi Arie: Tunggu 1-2 Hari Lagi

"Kita telah sama-sama mengetahui, dunia sudah memasuki era internet of military things/internet of battle-field things. Operasi militer semakin dapat dikendalikan dari jarak yang sangat jauh, dengan lebih cepat, tepat dan akurat," jelas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menuturkan, sudah saatnya Indonesia segera mempersiapkan pembentukan matra ke-4 Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan menghadirkan Angkatan Siber. Kehadirannya untuk memperkuat tiga matra yang sudah ada, yakni Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara.

"Ini penting mengingat posisi geopolitik Indonesia sangat rawan. Sebab, Indonesia berhadapan langsung dengan trisula negara persemakmuran Inggris, yakni Malaysia, Singapura, dan Australia, yang tergabung dalam Five Power Defence Arrangement (FFDA) bersama Selandia Baru dan Britania Raya. Di sisi lain, juga berada dalam arena pertarungan geopolitik Rusia, Tiongkok, dan Amerika," urai Bamsoet.

Baca juga : Pancasila Membangun Bangsa Dari Desa

Dosen Tetap Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Borobudur ini menambahkan, di bidang energi, Indonesia telah berkomitmen secara bertahap menekan emisi gas rumah kaca dengan mengurangi porsi penggunaan energi fosil dan mulai beralih pada energi baru dan terbarukan. Transisi energi ini merupakan pekerjaan besar, yang membutuhkan investasi sangat besar, dan tidak akan tuntas hanya dalam tiga sampai lima tahun.

"Strategi hilirisasi industri sudah memberikan hasil positif berupa nilai investasi pada industri pengolahan mineral yang meningkat pesat. Nilai ekspor nikel juga tumbuh sangat tinggi, yang membuat Indonesia menjadi negara penghasil nikel terbesar nomor satu di dunia," pungkas Bamsoet.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense