Sebelumnya
Pengakuan Nakama: Bendera One Piece Simbol Kritik Ilusi Kemerdekaan di Indonesia
Nakama adalah komunitas penggemar One Piece. Ahmad Jilul seorang Nakama, menilai fenomena bendera One Piece bukan sekadar aksi iseng atau tren budaya pop, melainkan bentuk protes rakyat terhadap ilusi kemerdekaan yang dipoles oleh elite.
“Ketika rakyat mengibarkan bendera bajak laut di bulan kemerdekaan, itu bukan sekadar hobi, apalagi candaan. Itu adalah tanda protes—teriakan diam yang menusuk, bahwa kemerdekaan yang dijanjikan ternyata hanyalah ilusi yang dipoles kata-kata manis elite,” kata Ahmad Jilul. kepada wartawan, Senin (11/8/2025).
Dia menilai bahwa meski Indonesia telah 80 tahun merdeka, pertanyaan “Sudahkah kita merdeka?” masih relevan. Menurutnya, indikator pembangunan manusia yang meningkat, pertumbuhan ekonomi stabil, dan demokrasi prosedural yang berjalan hanyalah “topeng” yang menutupi relasi kuasa yang tak banyak berubah sejak era kolonial.
“Kita hidup dalam demokrasi yang hanya memuja prosedur, bukan substansi; pemilu hanyalah upacara lima tahunan yang melanggengkan kekuasaan segelintir elite modal yang membajak sistem politik,” ujarnya.
Baca juga : Menhan: Jangan Kau Pajang Di Bawah Merah Putih Dong..
Posisi MPR dalam Merawat Nasionalisme Kebangsaan di Kalangan Gen Z
Dalam konteks ini, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) memegang peran strategis. Bukan sekadar lembaga negara yang memiliki fungsi formal dalam konstitusi, MPR sejatinya adalah “rumah besar kebangsaan” yang mengemban mandat ideologis: menjaga dan menanamkan nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Fungsi ini menjadi relevan sekaligus mendesak untuk menjawab tantangan nasionalisme di era Gen Z. Pertama, MPR sebagai kurator nilai ideologi.
MPR memiliki peran untuk memastikan bahwa nasionalisme yang tumbuh di kalangan Gen Z tidak bersifat sempit atau eksklusif, tetapi terbuka, inklusif, dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Melalui program sosialisasi Empat Pilar, MPR bisa mengemas pesan kebangsaan dalam bahasa dan medium yang dekat dengan dunia Gen Z: media sosial, konten kreatif, diskusi daring, hingga kolaborasi dengan influencer.
Baca juga : Herman Khaeron: Nasionalisme Harus Ditanamkan Sejak Dini
Dengan begitu, Pancasila dan semangat kebangsaan bukan sekadar hafalan, melainkan menjadi nilai hidup yang relevan. Kedua, MPR sebagai jembatan antar-generasi. Ada jarak historis antara pengalaman generasi yang membentuk kemerdekaan dengan generasi yang lahir di era internet.
MPR dapat menjadi penghubung narasi sejarah bangsa yang autentik dengan aspirasi masa depan yang diidamkan Gen Z. Forum-forum kebangsaan yang menghadirkan tokoh lintas usia, misalnya, bisa membantu memecah stigma bahwa nasionalisme hanyalah “retorika masa lalu” dan menegaskan bahwa ia tetap penting di masa depan.
Ketiga, MPR sebagai pengawal arah kebijakan kebangsaan. Di tengah polarisasi politik dan krisis kepercayaan terhadap institusi, MPR dapat memposisikan diri sebagai penjaga konsensus nasional.
MPR harus berani mengingatkan bahwa kebijakan publik, apapun bentuknya, harus mengakar pada semangat persatuan dan kemanusiaan. Dengan begitu, Gen Z tidak hanya diajak menjadi penonton, tetapi dilibatkan sebagai pelaku aktif dalam menjaga dan membangun negara.
Tantangan terbesar MPR adalah meninggalkan pola komunikasi satu arah yang kaku. Nasionalisme di kalangan Gen Z tidak akan tumbuh lewat ceramah panjang yang formalistik, melainkan lewat dialog, partisipasi, dan pengalaman yang membangkitkan rasa memiliki terhadap bangsa.
Baca juga : Kementan Dorong Pertanian Modern Lewat Inovasi Mekanisasi
Jika MPR mampu memanfaatkan teknologi dan jejaring sosial untuk membumikan nilai-nilai kebangsaan, maka nasionalisme tidak akan menjadi “relic” sejarah, tetapi energi hidup yang menggerakkan generasi muda menuju Indonesia Emas 2045.
Pada akhirnya, merawat nasionalisme kebangsaan di kalangan Gen Z bukanlah sekadar program, tetapi sebuah proses membangun kesadaran kolektif.
MPR memiliki panggung, mandat, dan legitimasi untuk memimpin proses ini. Tinggal pertanyaannya: apakah MPR siap turun dari podium, masuk ke ruang-ruang digital, dan berdialog dengan cara yang dipahami Gen Z? Polemik bendera One Piece seharusnya menjadi momentum dialog, bukan sekadar hujatan atau pelabelan.
Alih-alih hanya menghakimi, kita perlu memahami konteks di balik tindakan itu dan menggunakannya sebagai bahan edukasi publik. Nasionalisme abad ke-21 tidak hanya soal mengibarkan bendera, tetapi juga tentang bagaimana generasi muda dapat membela kepentingan bangsanya di tengah persaingan global—baik melalui inovasi, prestasi, maupun diplomasi budaya.
Akhirnya, nasionalisme bukanlah soal menolak budaya asing, melainkan soal memelihara keunikan dan kehormatan bangsa di tengah pergaulan dunia. Gen Z boleh menggemari One Piece, Blackpink, atau Marvel, tetapi mereka juga harus paham bahwa Merah Putih tidak pernah sekadar kain, ia adalah darah dan nyawa bangsa. Menjaga simbol itu adalah bagian dari menjaga diri kita sendiri sebagai Indonesia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.