RM.id Rakyat Merdeka - Senayan menyambut baik rencana Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) merevitalisasi 71.700 sekolah selama tahun 2026. Jumlah tersebut meningkat drastis dari rencana awal sebanyak 11.700 sekolah.
Wakil Ketua Komisi X DPR Kurniasih Mufidayati mengatakan, perluasan program perbaikan sekolah rusak pada tahun 2026 bisa dilakukan mengingat realisasi anggaran revitalisasi sekolah pada 2025 sebesar Rp 16,9 triliun berjalan baik. Perbaikan sekolah bukan lagi sekadar program tambahan, tetapi kebutuhan mendesak menjawab kondisi nyata di lapangan.
“Langkah lanjutan ini sangat penting karena kondisi infrastruktur pendidikan dasar dan menengah masih menghadapi tantangan serius. Khususnya pada kualitas ruang kelas sebagai tempat utama proses belajar-mengajar,” ujar Kurniasih dalam keterangannya, Rabu (14/1/2026).
Baca juga : Kapolri Resmikan 19 Jembatan Merah Putih Presisi Di Jateng
Diketahui, Kemendikdasmen memenuhi permintaan Presiden Prabowo Subianto untuk menambah target penerima manfaat program revitalisasi sebanyak 60 ribu sekolah pada tahun 2026. Sedangkan target awal adalah 11.700 sekolah. Artinya, kini program revitalisasi sekolah meningkat drastis menjadi 71.700.
Berdasarkan data Kemendikdasmen, pada tahun ajaran 2024/2025 terdapat 1,18 juta ruang kelas SD di Indonesia. Sayangnya sebanyak 60,3 persen di antaranya berada dalam kondisi rusak. Rinciannya 27,22 persen rusak ringan, 22,27 persen rusak sedang, dan 10,81 persen rusak berat. Sedangkan ruang kelas SD yang berada dalam kondisi baik hanya 39,7 persen.
Kemudian, di jenjang SMP, dari 421 ribu ruang kelas, hanya 50,33 persen dalam kondisi baik. Sisanya 24,73 persen rusak ringan, 17,96 persen rusak sedang, dan 6,97 persen rusak berat.
Baca juga : Mendes: Desa Penentu Masa Depan Indonesia
Berdasarkan temuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam tiga tahun terakhir, yakni periode 2022 hingga 2024, jumlah ruang kelas rusak di jenjang SD, SMP, dan SMA justru terus meningkat. Sedangkan jumlah ruang kelas dalam kondisi baik mengalami penurunan.
“Data ini menunjukkan pembangunan pendidikan tidak cukup hanya menambah jumlah ruang kelas. Justru yang jauh lebih mendesak adalah memastikan ruang belajar yang sudah ada benar-benar layak, aman, dan mendukung proses pembelajaran,” sambung politisi PKS itu.
Selain itu, ia menekankan pentingnya penentuan prioritas perbaikan sekolah, khususnya di daerah rawan dan terdampak bencana seperti banjir dan longsor. Sebab sekolah di wilayah tersebut sering kali mengalami kerusakan berulang. Sehingga memerlukan perhatian dan intervensi yang lebih cepat serta komprehensif. “Daerah bencana harus menjadi prioritas,” tandasnya.
Baca juga : Setelah PAN, Giliran Golkar & PKB Tolak E-Voting Pemilu
Dia mengingatkan, anak-anak di wilayah yang terdampak banjir, longsor, atau bencana alam tidak boleh kehilangan hak atas pendidikan yang layak. Apalagi hanya karena gedung sekolahnya rusak dan tak kunjung diperbaiki.
Kurniasih menekankan program revitalisasi bangunan sekolah tidak hanya berorientasi pada jumlah, tetapi juga pada kualitas bangunan agar lebih tahan lama. Awasi perencanaan teknis, spesifikasi material, serta pemilihan kontraktor. Tujuannya, agar hasil pembangunan tidak cepat rusak dan tidak menimbulkan masalah baru di kemudian hari.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.