RM.id Rakyat Merdeka - Pengurus Nadhatul Ulama (NU) Lumajang tidak terima bendera organisasi itu dikibarkan dalam kampanye Calon Wakil Presiden nomor urut 02, Sandiaga Uno. Sandi, mengibarkan bendera NU saat berkampanye di Lumajang, Jawa Timur, Kamis (4/4) lalu.
NU Lumajang pun melayangkan nota keberatan. Nota keberatan itu ditandatangani sejumlah pengurus NU Lumajang. “Kami tidak sekadar menyayangkan, tapi protes keras,” ujar Ketua NU Lumajang Moh Mas’ud saat dikontak RMCO, Sabtu (6/4).
Mas’ud menerangkan, bendera NU merupakan kehormatan Jam'iyah Nahdlatul Ulama yang merupakan hasil istikharah Muassis Jam'iyah Nahdlatul Ulama. Bendera tersebut juga mencerminkan nilai-nilai luhur dan harokah perjuangan NU dalam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara.
Baca juga : Keteteran Cari Dana Kampanye, Sandi Pontang-panting
“Jadi, ketika dikibarkan bukan pada tempatnya, kita protes keras. Bendera itu bukan untuk kampanye. Karena NU bukan ke politik praktis begitu. Penggunaan atribut organisasi resmi, itu ada kode etiknya. Ini pelanggaran kode etik,” tegas Mas’ud.
Tak sekadar pelanggaran kode etik saja, NU Lumajang juga menilai tindakan pengibaran bendera NU dalam kegiatan kampanye politik semacam itu adalah bentuk pelecehan kepada Jam'iyah NU. “Hal itu dapat menimbulkan gesekan horisontal di tengah masyarakat,” ujar Mas’ud.
Mas’ud melanjutkan, Jami’yah NU memandang bahwa sebuah aspirasi atas hajat politik adalah sebuah hak setiap warga negara. Namun demikian, NU memandang bahwa kinerja politik untuk meraih simpati masyarakat, harus dilakukan dengan cara yang bermartabat. Tanpa menodai lembaga-lembaga organisasi dan institusi resmi di Republik ini.
Baca juga : WNI Di Honolulu Dan Philadelphia Bersatu Menangkan Jokowi-Ma’ruf
“Yang jelas, nyata-nyata bendera NU digunakan untuk kampanye. Makanya kita protes keras,” imbuh Mas’ud.
NU Lumajang pun tengah pikir-pikir untuk membawa hal ini ke jalur hukum. Saat ini, kata Mas’ud, para pengurus NU Lumajang tengah mempelajari dulu peristiwa tersebut.
“Kalau langkah hukum ini dipandang perlu dan dibutuhkan, ya bisa jadi kita tempuh. Karena itu kita masih pelajari lebih lanjut. Kita lihat perkembangannya nanti,” tandas Mas’ud.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.