Dewan Pers

Dark/Light Mode

Keteteran Cari Dana Kampanye, Sandi Pontang-panting

Kamis, 15 Nopember 2018 08:35 WIB
Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno. (Foto: IG @sandiuno)
Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno. (Foto: IG @sandiuno)

RM.id  Rakyat Merdeka - Belum genap dua bulan kampanye, Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno mengaku mulai kekurangan logistik. Padahal, masa kampanye masih tersisa 5 bulanan. Agar tak mogok di tengah jalan, Sandi pontang-panting cari donatur kakap.

Dibanding Jokowi, KH Ma’ruf Amin, dan Prabowo Subianto, Sandi memang paling rajin kampanye. Hampir tiap hari, eks Wakil Gubernur DKI itu berkeliling daerah. Dari satu kota ke kota lain. Blusukan ke pasar, menemui relawan, dan sebagainya. Gaya kampanye seperti ini cukup menguras logistik. Satu bulan kampanye, Tim Kampanye Sandi sudah menghabiskan dana hampir Rp 17 miliar. Sandi mengaku kondisi keuangan tim kampanyenya mulai terseok-seok. Pasalnya, belum ada donatur yang menyumbang dalam jumlah besar.

Sandi mengatakan, 20 November nanti, timnya akan membeberkan jumlah dana kampanye yang sudah dihabiskan. Sekaligus, melaporkan bahwa saat ini sedang dalam kondisi kesulitan dana. “Secara resmi, kami mengakui penggalangan dana terkendala luar biasa. Karena, belum ada dunia usaha skala besar, yang memberikan support kepada kami,” kata Sandi, usai meresmikan posko relawan Komunitas Sandi di Jalan Waspada, Bandung, kemarin.

Berita Terkait : Rossa: Rezeki Tahun Baru Dipake Sebaik Mungkin

Saking cekaknya dana, mantan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) ini bahkan mengaku kesulitan mencetak poster kampanye Prabowo-Sandi. Menurutnya, sudah banyak laporan bahwa alat peraga kampanye (APK) Prabowo-Sandi masih sangat minim. Terutama, di daerah pedesaan. Karena itu, pihaknya bekerja keras mencari dana tambahan. “Itu memang problem kami. Di pedesaan itu nggak ada poster Prabowo-Sandi. Banyak yang ngadu bahwa di Banten, Jawa Barat, dan pelosok lainnya itu nggak ada poster. Itu menyulitkan kami," ujar Sandi.

Pernyataan ini sekaligus mematahkan anggapan yang menyebut kubu Prabowo-Sandi telah melakukan kampanye hitam dengan memasang poster Jokowi mengenakan setelan raja lengkap dengan mahkota, di wilayah Banjarnegara, Jawa Tengah. “Kalau misalnya, ada yang nyetak poster seperti itu dari kubu kami, itu sangat tidak masuk akal. Kami perlunya poster kami, bukan poster orang lain. Apalagi, popularitas saya masih sangat minim. Saya tidak banyak dikenal. Tadi, di Paguyuban Pasundan, masih ada yang belum kenal siapa saya. Kalau ada uang lebih, kami akan fokus buat cetak alat peraga kampanye,” bebernya.

Dijelaskan, sebagian besar dana kampanye diperlukan untuk berbagai alat peraga kampanye. Oleh karenanya, Sandi akan segera menghitung kembali kebutuhan anggaran, guna melakukan efisiensi dalam 5 bulan ke depan.  “Ini tinggal 5 bulan lagi, kami pontang-panting terus. 154 hari kita lagi hitung, tadinya pahe (paket hemat) sekarang pahese (paket hemat sekali). Saya akan panggil bendahara untuk menghitung jumlah kebutuhan alat peraga kampanye dan biaya distribusinya," tutur Sandi.

Berita Terkait : Sandi: Yang Penting Rakyat Bersama Kita

Pada pertengahan bulan lalu, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi merilis data penerimaan dan pengeluaran selama satu bulan masa kampanye, sejak 23 September 2018. Bendahara BPN Thomas Djiwandono menjelaskan, selama satu bulan kampanye, pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menghabiskan dana Rp 16,927 miliar. Menurutnya, sebagian besar pengeluaran itu dihabiskan untuk operasional kampanye seperti pertemuan terbatas dan pertemuan tatap muka, serta operasional lain-lain. "Untuk pengeluaran modal seperti pembelian alat dan modal lainnya, kami menghabiskan dana Rp 87.894.454,-," ujar Thomas.

Sandi sangat mendukung pelaporan keuangan dana kampanye politik secara transparan kepada publik, sebagai bentuk pendidikan politik bagi masyarakat Indonesia. “Selama satu bulan kampanye berkeliling ke seluruh Indonesia, kami habiskan Rp16 miliar. Kami sebut sebagai paket hemat. Kami melihat transparansi semacam ini bisa menarik partisipasi publik, yaitu melihat biaya politik yang masuk akal,” tegasnya. 

Sekadar tahu saja, ribuan spanduk dan poster Jokowi mengenakan mahkota raja terpasang di hampir seluruh wilayah Banjarnegara, Jawa Tengah. Belum diketahui siapa pihak yang bertanggung jawab atas pemasangan poster bergambar orang nomor satu di Indonesia tersebut. PDIP mengaku poster tersebut bukan dipasang oleh pihaknya. Tapi oleh pihak lain.

Baca Juga : Beli Mainan Ayam Jago, Sandiaga Kasih Nama Owi dan Owo

Dari hasil razia yang dilakukan kader PDIP Banjarnegara, diketahui ada 3.000 poster, spanduk, dan baliho Raja Jokowi. Ribuan poster itu kemudian dicopot dan diamankan di Kantor DPC PDIP. Pencopotan poster itu dilakukan karena atribut tersebut dinilai tidak sesuai dengan desain tim pemenangan Jokowi- Ma’ruf, dan diduga dipasang oleh orang-orang yang ingin menjatuhkan citra capres Jokowi. [BCG]