RM.id Rakyat Merdeka - Pilpres 2024 merupakan salah satu momen krusial menuju periode penting tahun 2025-2029. Pemimpin terpilih akan menghadapi periode make or break, yang akan menentukan posisi Indonesia dalam peta jalan menuju negara maju.
Di tengah momentum yang penting ini, Indonesia juga dihadapkan pada tantangan krisis iklim, yang mendisrupsi perekonomian global.
PBB melalui berbagai inisiatifnya, seperti United Nations Framework on Climate Change Conference (UNFCCC) dan forum Conference of The Parties (COP), mendorong seluruh negara di dunia untuk melakukan aksi dekarbonisasi. Tak terkecuali, Indonesia.
Transisi menuju dekarbonisasi bukanlah sesuatu yang mudah. Mengingat salah satu pilarnya adalah menggantikan sebagian porsi energi bahan bakar fosil, dengan energi baru terbarukan (EBT).
Namun, tak bisa dipungkiri, bahan bakar fosil masih menjadi salah satu sumber energi yang paling ekonomis dan andal untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Apalagi, saat ini, EBT masih menghadapi berbagai tantangan seperti biaya dan risiko investasi yang besar, serta suplai energi yang intermiten.
Baca juga : Suara Semangat Muda: Mari Kolaborasi Ekonomi Hijau Untuk Indonesia
Sebagai negara berkembang dengan PDB per kapita yang masih menempati peringkat 98 dunia, Indonesia menghadapi dilema ganda: mendorong pertumbuhan ekonomi yang optimal, sekaligus mengintegrasikan upaya dekarbonisasi.
Tidak mudahnya menyelaraskan upaya dekarbonisasi dengan pembangunan, mengakibatkan munculnya pendapat yang menyebut Indonesia mestinya memprioritaskan berbagai isu lain yang lebih mendasar. Seperti eradikasi kemiskinan, penciptaan lapangan kerja, pengembangan industri, dan pemerataan pembangunan.
Terlepas dari dilema dekarbonisasi di Indonesia, seluruh pasangan capres-cawapres merancang strategi dekarbonisasi dan ekonomi hijau, mulai dari peningkatan kapasitas EBT, pengaplikasian ekonomi sirkuler, hingga inisiasi proyek mikro-menengah seperti pengelolaan limbah di pedesaaan.
Apakah strategi-strategi tersebut akan menghambat pencapaian pembangunan? Soal ini, Profesor Ricardo Hausmann dari Harvard University, Amerika Serikat (AS) berpendapat, "pertumbuhan hijau" atau green growth, memainkan peran yang sangat krusial sebagai salah satu pilar perkembangan ekonomi suatu negara. Menurutnya, dekarbonisasi dapat mengubah lanskap perekonomian dan strategi pertumbuhan secara global.
Dengan dituntutnya seluruh negara, perusahaan, maupun individu untuk melakukan dekarbonisasi, permintaan atas produk dan jasa baru yang lebih “hijau” akan meningkat.
Baca juga : Sultan Najamudin: Komposisi Capres-Cawapres 2024 Sangat Jawasentris
Salah satu studi Oxford Economics menyebutkan, transisi ke dunia yang lebih hijau membutuhkan produk dan jasa yang baru dengan potensi nilai ekonomi sebesar 10 triliun dolar AS atau sebesar 5 persen PDB dunia di tahun 2050.
Untuk mengambil potensi ekonomi tersebut, suatu negara harus mempunyai peran srategis di dalam rantai nilai ekonomi hijau.
Sebagai contoh, China yang merupakan produsen dari 80 persen suplai panel surya dunia, saat ini mendapatkan manfaat ekonomi yang besar dari ekspor produk EBT.
Di sisi lain, negara importir panel surya, seperti Indonesia, akan semakin menggantungkan upaya dekarbonisasinya pada negara produsen. Jika Indonesia tidak mampu mengubah peran dari konsumen menjadi produsen dalam ekonomi hijau, dekarbonisasi hanya akan dianggap sebagai beban dengan nilai tambah ekonomi yang minimal.
Untuk menjadi produsen ekonomi hijau di kancah global, Indonesia sebetulnya telah memiliki beberapa keunggulan kompetitif.
Baca juga : Soal Batas Usia Capres-Cawapres, BEM SI Minta MK Jaga Independensi
Pertama, Indonesia memiliki potensi energi baru dan terbarukan yang masif, dari mulai potensi energi panas bumi, sinar matahari, maupun sumber daya air. Indonesia mempunyai peluang untuk menjadi pusat pengembangan teknologi EBT dan produk “hijau” lainnya seperti green hydrogen.
Kedua, Indonesia adalah salah satu negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, mineral yang dibutuhkan untuk pengembangan industri baterai.
Ketiga, Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi nomor dua di dunia. Dengan potensi alam yang besar, Indonesia dapat mengembangkan banyak proyek ekonomi hijau berbasis hayati.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.