BREAKING NEWS
 

Meretas Jalan “Kaisar Ekonomi”

Reporter & Editor :
SUPRATMAN
Selasa, 26 November 2024 06:14 WIB
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah diduga memeras bawahannya untuk biaya Pilkada 2024. Ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan KPK, gubernur inkumben ini tetap yakin bisa memenangi Pilkada Bengkulu, Rabu (27/11) besok.

Kemenangan seorang tersangka bukan cerita baru. Di Pilkada serentak 2018, ada dua tersangka yang memenangi Pil kada. Pada 2015, ada tiga orang.

Kenapa anomali ini bisa terjadi? Salah satu alasannya karena rakyat tidak peduli. Mungkin juga si calon ini dianggap dermawan. Apa pun warnanya, yang penting suka berbagi. Sementara sudah sering diungkapkan bahwa salah pilih lima menit bisa membawa bencana selama lima tahun.

Karena itu, perlu jalan keluar segera dan luar biasa. Dari atas. Bukan menunggu kesadaran rakyat. Pemberantasan korupsi ini, bukan saja untuk meminimalisir biaya pilkada, tapi untuk memberantas korupsi. Inti masalahnya.

Baca juga : ``Vitamin Pilkada``, Bukan Rutinitas

Kalau untuk meminimalisir biaya pilkada, bisa saja ada wacana, misalnya untuk posisi gubernur, akan dipilih oleh DPRD. Namun, apakah korupsinya hilang? Sepertinya tidak. DPRD bisa saja berpotensi “memanfaatkan” celah tersebut.

Memperkuat pemberantasan korupsi secara serius dan masif menjadi salah satu dasar serta kunci penting. Bukan hanya selama Pilkada. Karena, korupsi bisa terjadi setiap saat. Dimana pun. Oleh siapa pun. Termasuk yang sudah melakukan sumpah jabatan dengan penuh khidmat saat dilantik sebagai pejabat.

Pemberantasan korupsi yang terkoordinir, masif, tegas serta tidak pandang bulu, menjadi kunci penting bagi penyehatan dan pertumbuhan ekonomi delapan persen yang dicanangkan Presiden Prabowo.

Adsense

Perdana Menteri China 1998-2003, Zhu Rongji, pernah menerapkan “pola” ini. Dengan memberantas korupsi, serta upaya-upaya lain untuk menciptakan pemerintahan bersih, Rongji berhasil membangun perekonomian China.

Baca juga : Lawan Korupsi Yang Kian Satire

Di era Zhu Rongji, sebanyak 4.000 orang dihukum mati, termasuk koruptor. Amnesti Internasional bahkan menyebut jumlahnya bisa lebih banyak lagi. Atas keberhasilan ini, Barat menyebut Rongji sebagai “Kaisar Ekonomi”.

Presiden Prabowo juga memiliki tekad untuk meretas jalan menciptakan keberhasilan lewat pemerintahan yang bersih.

“Tidak ada negara yang berhasil tanpa pemerintah yang bersih. Karena itu saya bertekad, saya bertekad memimpin pemerintahan Republik Indonesia yang bersih,” kata Presiden Prabowo dalam acara deklarasi Gerakan Solidaritas Nasional (GSN) di Indonesia, di Ja karta, Sabtu (2/11) lalu.

Tekad ini perlu segera diwujudkan di tahun pertama. Jangan ditundatun da, karena gangguan, hambatan dan perlawanan akan segera datang ketika pemerintahan terlihat kurang sigap dalam memberantas korupsi.

Baca juga : KPK Dan Tumbuh Delapan Persen

Ketika pola “ekonomi sehat lewat pemerintahan bersih” berhasil diwujudkan, kita berharap, tidak ada lagi gubernur yang ditangkap. Kebocoran bisa diminimalisir. Kepercayaan investor juga meningkat. Pembangunan lebih efektif. Pertumbuhan ekonomi delapan persen bukan lagi kemustahilan.

Kita tunggu langkah dan terobosan luar biasa dalam pemberantasan korupsi. Bukan yang biasa-biasa atau standar, apalagi yang di bawah standar. Karena kondisi ini sudah darurat.

Kaisar Ekonomi Zhu Rongji pernah melewati jalan terjal ini. Dia dinilai berhasil. Kekuatan China sekarang, salah satunya, karena fondasi serta warisan Zhu.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense