RM.id Rakyat Merdeka - Pelaksanaan pencoblosan Pilkada 2024, Rabu (27/11/2024) tak seramai saat Pilpres 2024. Banyak Tempat Pemungutan Suara (TPS) tampak lengang. Padahal, Daftar Pemilih Tetap (DPT) di tiap TPS pada Pilkada 2024 ditambah hampir menjadi dua kali lipat dari Pilpres 2024. Dari semula sekitar 300 menjadi rata-rata hampir 600 orang.
Saat ini, data resmi partisipasi publik di Pilkada 2024 memang belum keluar, karena proses rekapitulasi masih berlangsung. Namun, jika melihat kondisi TPS-TPS saat pencoblosan lalu, sepertinya akan turun drastis dibanding Pilpres 2024, yang mencapai 81,78 persen. Mungkin angkanya tidak akan jauh dari 60 persen. Bahkan, bisa jadi ada yang di bawah itu.
Kondisi ini jelas kurang baik dalam dunia demokrasi kita. Legitimasi calon terpilih menjadi kurang kuat. Bahkan, sangat mungkin terjadi, di suatu daerah, dukungan terhadap calon terpilih Pilkada masih kalah dibanding jumlah masyarakat yang golput.
Baca juga : Injury Time Pilkada 2024
Setidaknya, ada lima alasan yang berkembang di masyarakat yang menyebabkan mereka malas mencoblos. Pertama, dekatnya jarak Pilpres dengan Pilkada. Hal ini membuat sebagian masyarakat merasa capek dan gairahnya berkurang untuk ikut pesta demokrasi. Sebab, belum lama mencoblos, sudah ada pencoblosan lagi.
Kedua, tidak kenal dengan calon. Untuk di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Sumatera Utara, sebagian kandidat yang maju memang sudah dikenal luar masyarakatnya. Namun, di daerah lain, banyak pemilih yang tidak kenal calon yang maju. Hal ini membuat mereka bingung, mau memilih siapa. Karena bingung, akhirnya mereka golput. Sebagian memang ada yang datang ke TPS untuk “mengungurkan” kewajiban. Tapi, ada fenomena pemilih ini mencoblos semua nama atau tidak mencoblos satu pun calon, karena tidak tahu nama yang lebih baik.
Ketiga, merasa Pilkada tak berpengaruh terhadap perbaikan kehidupan. Sebagian masyarakat merasa, ada Pilkada ataupun tidak, nggak ngaruh terhadap kehidupan mereka. Ada anggapan, siapa pun yang terpilih, tidak akan memperbaiki kehidupan mereka. Jika ingin maju, tetap harus usaha sendiri, tidak bisa mengandalkan pemerintah daerah.
Baca juga : Jalan Tengah Kenaikan Upah
Keempat, persaingan yang longgar. Persaingan yang sengit sering menjadi berkah dalam setiap pemilihan. Dengan persaingan yang sengit, para pendukung masing-masing calon menjadi solid. Namun, di Pilkada 2024, persaingan antarkubu di berbagai daerah tampak tak terlalu sengit. Kondisi ini membuat para pemilih merasa “tak berkewajiban” untuk ikut berjuang memenangkan calonnya.
Kelima, tak percaya proses Pilkada. Pihak ini biasanya kecewa karena merasa calonnya dicurangi, atau pilkada hanya akal-akalan. Makanya, mereka menganggap, tak ada gunanya capek-capek ikut nyoblos, karena hasilnya sudah “ditentukan”.
Kondisi ini harus diatasi dengan baik oleh para pemangku kebijakan. Jangan sampai ke depan masyarakat semakin apatis terhadap proses demokrasi. Caranya, dengan memperbaiki sistem, melakukan penjaringan calon-calon terbaik, menciptakan persaingan yang fair, dan untuk calon yang terpilih harus mampu menunjukkan kinerja yang baik dalam meningkatkan kesejahteraan warga.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.