Dark/Light Mode

Sigap Sikapi Badai PHK

Senin, 4 November 2024 04:56 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kembali menghantui. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat, Sepanjang Januari hingga 24 Oktober 2024, pekerja yang kena PHK mencapai 59.764 orang. Kondisi ini jelas harus disikapi dengan sigap. Jika tidak, jumlah pengangguran akan bertambah, yang berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi.

Dari data Kemnaker tadi, terlihat penambahan jumlah pekerja yang kena PHK cukup signifikan. Per 26 September 2024 lalu, jumlah pekerja yang di-PHK ada di angka 53 ribu orang. Artinya, ada penambahan 6 ribu pekerja kena PHK dalam rentang satu bulan.

Jumlah ini pun tentu belum menggambarkan semuanya. Sebab, itu baru data yang tercatat di Kemnaker, yang diambil dari para pekerja formal. Sedangkan untuk informal, yang jumlahnya juga banyak, tidak terekam dalam data tersebut. Jika ditambah dengan mereka, jumlah yang kena PHK bisa lebih banyak lagi.

Baca juga : Korban Serbuan Barang Impor

Jumlah ini juga berpotensi bertambah jika masalah di PT Sri Rejeki Isman (Sritex) gagal diatasi. Saat ini, Pemerintah sedang berusaha keras agar Sritex tidak bangkrut. Tujuannya, agar para pekerja di perusahaan tekstil terbesar di Asia Tenggara tersebut tidak kehilangan pekerjaannya.

PHK merupakan salah satu problem penghambat pertumbuhan ekonomi. Dengan adanya PHK, berarti ada pengangguran baru. Untuk beberapa saat, mereka mungkin masih punya bekal dari pesangon. Namun, jika tidak segera mendapat pekerjaan baru, daya beli korban PHK ini akan melemah. Hal ini akan berkontribusi pada penurunan permintaan pasar.

Kita akui, saat ini, ada sektor baru yang sedang berkembang dan mampu menyerap banyak tenaga kerja. Contohnya, sektor hilirisasi. Berdasarkan data Pemerintah, sektor ini sudah menyerap tenaga kerja lebih dari 200 ribu orang.

Baca juga : Warna-warni Survei Pilkada

Namun, perlu diingat, penambahan tenaga kerja baru juga tinggi. Setiap tahun, ada ratusan ribu atau bahkan jutaan dari lulusan perguruan tinggi dan SMA/sederajat yang mencari kerja. Jika jumlah ini tidak terserap baik, sebagian mereka akan menganggur, dan menjadi beban ekonomi.

Untuk menyerap mereka, dan juga memberi pekerjaan pada korban PHK tadi, industri di dalam negeri harus baik. Produksinya baik, penjualannya juga baik. Sektor-sektor baru harus tumbuh dengan inovasi dan teknologi tinggi. Penjualan produknya jangan hanya mengandalkan pasar dalam negeri, tapi juga harus mampu bersaing di pasar ekspor.

Sayangnya, kondisi industri kita tidak sebaik angan-angan itu. Sebagian sedang kewalahan akibat digempur barang impor. Sebagian industri tekstil, alasan kaki, dan perlengkapan rumah tangga, tengah megap-megap. Jika mereka gulung tikar, bersiapkan badai PHK akan berlanjut.

Baca juga : Yang Muda Yang Bekerja

Untuk itu, Pemerintah, DPR, dunia usaha, konglomerat, dan entrepreneur harus bersatu untuk mengatasi hal ini. Caranya, dengan terus menjaga industri kita agar berjalan baik. Jaga produksinya, jaga kualitasnya, dan juga jaga pasarnya. Dengan begitu, diharapkan ekonomi dapat berputar dengan baik, dan jumlah PHK dapat ditekan sekecil mungkin.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.