BREAKING NEWS
 

Kurban Dan Viatina Brazil

Reporter & Editor :
SUPRATMAN
Kamis, 5 Juni 2025 06:46 WIB
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Ini imbauan rutin kepala daerah di beberapa kota besar: Jangan berjualan hewan kurban di trotoar dan taman.

Sayangnya, sejauh ini, belum ada tempat khusus bagi para pedagang hewan kurban atau lahan yang bisa disewa. Yang kebersihannya terjaga serta ketersiadaan pakannya terjamin.

Fenomena ini hanya salah satu contoh kecil bahwa “kurbanomics” perlu dicarikan solusi tepat. Idul Kurban mestinya menjadi momen membenahi dan memperkuat ekosistem dunia peternakan di Indonesia. Sehingga, bisa membawa manfaat berkelanjutan yang lebih besar bagi rakyat.

Tahun ini, jumlah pekurban diperkirakan 1,92 juta orang. Berkurang dibanding 2024 yang mencapai 2,16 juta.

Baca juga : Bukan Sekadar “Klasemen Korupsi”

Lembaga Riset Institute for Demographic and Affluance Studies (IDEAS) memproyeksikan, nilai ekonomi tahun ini diperkirakan mencapai Rp 27 triliun. Turun sekitar satu triliun rupiah dibanding tahun lalu.

Dampaknya tentu berantai. Mulai dari pencari rumput, penjaga kandang, tukang potong hewan, penjual arang sampai ke peternak mengalami penurunan pendapatan.

Idul Kurban seharusnya menjadi momen untuk meng-upgrade peternak tradisional, menyediakan pakan bermutu, meningkatkan kualitas daging, dan sebagainya.

Adsense

Sejauh ini, Indonesia masih tertinggal jauh dibanding Brazil misalnya. Sebagai sesama negara tropis, industri peternakan di Brazil jauh lebih berkembang. Mereka termasuk yang terdepan di dunia.

Baca juga : Rutinitas Reshuffle

Institut Geografi dan Statistik Brasil (IBGE), mencatat, Brasil memiliki jumlah ternak sapi komersial terbesar di dunia. Jumlahnya mencapai 239 juta ekor. Nomor dua di dunia, di bawah India. Indonesia baru mencapai belasan juta ekor.

Kalau di musim Idul Kurban ini kita mendengar ada sapi berharga ratusan juta, Brazil malah memiliki sapi berharga puluhan miliar. Namanya Viatina-19. Harganya Rp 65 miliar. Resmi tercatat dalam Guinness World Records.

Sapi berwarna putih bersih berwajah kalem ini tidak dipotong. Dia menjadi bibit unggul. Sel telurnya dijual. Harganya mencapai empat miliar rupiah. Pembelinya, antara lain, sultan-sultan Arab.

Sapi termahal ini bisa menjadi semacam branding dan lambang untuk mengkampanyekan keunggulan sapi dan peternakan Brazil ke seluruh dunia.

Baca juga : Rinus Dan Total Anti Korupsi

Tentu saja Viatina tidak ditempatkan di tempat sembarangan. Dia dijaga pengawal bersenjata. Ada kamera pengawas yang memantau selama 24 jam.

Begitulah, industri sapi bisa menjadi branding dan ikon serta kebanggaan nasional yang bernilai ekonomis tinggi. Membawa manfaat besar buat rakyat.

Sehingga, lewat keunggulan Viatina, Brazil bisa berseru: kami bukan hanya sepakbola. Kami juga memiliki sapi juara dunia. Kami tidak hanya memiliki Pele, kami juga punya Viatina.

Hasilnya: Brazil menjadi pengeskpor daging sapi terbesar di dunia. Sampai sekarang.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense