Dark/Light Mode

AS-China Mereda, Selanjutnya…?

Kamis, 15 Mei 2025 06:19 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Perang dagang antara AS dan China “berakhir”, tantangan baru, dimulai. Untuk menyikapi “gencatan senjata” tersebut, tidak ada kalimat lain selain “segera manfaatkan peluang”. 

Gencatan senjata AS-China hanya berlangsung 90 hari. Ujungnya tidak bisa diprediksi. Bisa membaik, atau malah memburuk. 

Karena itu, Indonesia perlu menjadi negara mandiri. Tidak tergantung kepada salah satu negara atau pasar tertentu. Tidak ada jaminan gencatan senjata ini akan bertahan lama. 

Dalam kondisi tak menentu itulah, langkah Indonesia dengan mempererat kerjasama dengan negara-negara ASEAN sebagai reaksi atas perang dagang AS-China, perlu terus diseriusi. Jangan “hangat-hangat tahi ayam”. Jangan berhenti di tengah jalan karena situasi dan kondisi sedikit mereda. 

Baca juga : Darimana Kondisi Darurat Berawal?

Rencana-rencana cadangan lainnya juga perlu disiapkan untuk mengantisipasi berbagai macam kemungkinan. Jangan sampai kita menerapkan pola dadakan, “tiba masa, tiba akal”. Atau, panik ketika situasi dan kondisi di luar dugaan tiba-tiba menyergap.

China yang sekarang sangat kuat, juga pernah berada di posisi Indonesia. Mereka kemudian menyusun “peta jalan” dengan sangat serius. Mereka membersihkan lembaga-lembaganya, menumbuhkan trust, serta menciptakan pasar secara massal melalui produksi massal. 

Melalui peta jalan Reformasi Ekonomi yang dimulai sejak 1978, China melakukan banyak terobosan luar biasa. Koruptor dihukum mati, regulasi investasi diselaraskan, gangguan-gangguan investasi apa pun, disikat. 

Sejak saat itu, China melesat jauh. Negara berpenduduk 1,4 miliar tersebut berhasil meng-upgrade dirinya dari lahan pertanian yang sangat miskin menjadi pusat kekuatan industri dunia yang sangat kuat. Sejak itu, lebih dari 800 juta orang di China berhasil keluar dari jeratan kemiskinan.

Baca juga : Rampas Aset, Mulai Serius

Indonesia tentu punya jalannya sendiri. Tidak mesti sama dengan China. Sekarang misalnya, ada upaya kuat untuk menertibkan organisasi-organisasi yang menghambat investasi. Mulai dari yang kecil-kecilan sampai yang triliunan. 

Kita apresiasi upaya ini. Paling tidak, ada langkah serius, apalagi cerita negatif ini sudah menjadi konsumsi dunia internasional.

Pemberantasan korupsi, juga terlihat mulai agak galak. Karena, selama ini, isu korupsi, termasuk aneka pungutan di birokrasi, serta hukum yang serba tidak pasti dan terkesan kacau, menjadi isu penting bagi para investor.

Kita berharap, apa pun situasi dan kon disinya seusai gencatan senjata antara AS dan China, Indonesia bisa tampil dengan kepala agak tegak di segala aspek, termasuk di meja perundingan. 

Baca juga : Uang Kopi Investasi

Indonesia yang bisa sejajar dengan negara-negara lain, atau bahkan melampaui nya, adalah harapan realistis kita semua. Kita tunggu terobosan serta aksi-aksi konkretnya. Bukan sekadar wacana.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.