Dark/Light Mode

Darimana Kondisi Darurat Berawal?

Selasa, 13 Mei 2025 06:29 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Banyaknya kasus besar, termasuk kasus korupsi, yang “dimaafkan dan dilupakan”, membuat kasus-kasus serupa, kembali terulang.

Di sinilah perlunya konsistensi. Perlunya sistem serta penegakan hukum yang tegas serta tidak “hangat-hangat tahi ayam”. Tidak “pandang bulu”. 

Kita ingat, pada 2008 Indonesia diguncang kasus Bank Century. Nilai kerugiannya: tujuh triliun rupiah. Saat itu, heboh. DPR membentuk Pansus. Rapatnya selalu ramai.

Dengan nilai yang fantastis tersebut, kita berharap akan timbul kesadaran disertai harapan: semoga ini yang terakhir.

Yang terjadi justru sebaliknya. Kasus-kasus korupsi kian “menggila”. Dari “klasemen sementara Liga Korupsi Indonesia” tercatat ada yang delapan triliun, lalu meningkat menjadi 12, 17, 22, 37 sampai 78 triliun rupiah. 

Baca juga : Rampas Aset, Mulai Serius

Bukannya berhenti, jumlahnya malah meningkat sangat cepat. Ada yang 300 triliun bahkan sampai nyaris seribu triliun rupiah. Fantastis! 

Di kelompok perorangan, bahkan ada tersangka makelar kasus, (mantan) pejabat Mahkamah Agung, yang sudah malang melintang di dunia perkasusan. Di rumahnya disita uang Rp 982 miliar dan emas 51 kg. 

Kenapa ini terus terjadi dan berulang? Mudah “memaafkan dan melupakan” menjadi salah satu faktornya. 

Memaafkan dan melupakan banyak aktor yang terlibat dalam suatu kasus, seperti menyimpan gunung es yang tak terlihat. Atau, seperti bom waktu yang siap meledak kapan pun. 

Ada satu bangsa yang kuat walaupun kecil. Mereka tidak mudah memaafkan dan melupakan. Penjahat perang mereka kejar sampai ke mana pun. Di usia berapa pun. Bahkan, ada yang diadili di usia 80 bahkan 90 tahun. 

Baca juga : Uang Kopi Investasi

Kita tidak memihak bangsa penindas ini. Tapi, bagaimana mereka mengabadikan serta tidak melupakan “kesalahan” orang lain, telah menjadikan mereka kuat. 

Mudah memaafkan dan melupakan bukan hanya soal korupsi, tapi banyak kasus lainnya. Terus berulangnya kasus-kasus tersebut menggambarkan bahwa Indonesia seolah tak pernah mendengar ungkapan “pengalaman adalah guru terbaik”. 

Minggu (11/5/2025) misalnya, peristiwa menyedihkan terjadi di Malang, Jawa Timur. Stadion Kanjuruhan yang sudah direnovasi setelah tragedi yang menelan 135 korban jiwa pada 2022 lalu, kembali dibuka. Peresmiannya dibuka dengan pertandingan Arema FC vs Persik Kediri. Hasilnya, Persik menang. 

Sayangnya, seusai pertandingan, bus Persik Kediri dilempari batu oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Kacanya pecah. Beberapa asisten pelatih dan pelatih Persik asal Brazil, mengalami luka. 

Pertanyaannya: dimanakah memori kelam tragedi Kanjuruhan yang mengerikan itu? 

Baca juga : Segera Bahas RUU Pemilu!

Banyaknya kondisi darurat yang terjadi sekarang, seperti darurat judi online, pinjol, pendidikan, narkoba, korupsi dan sebagainya, yang semakin lama semakin rumit, bisa tumbuh dari benih “mudah memaafkan dan melupakan”. 

Di sinilah pentingnya, untuk tidak mudah melupakan. Caranya, antara lain melalui penguatan serta penegak(an) hukum yang berintegritas. Melalui Terobosan-terobosan yang “out of the box”. 

Inilah mengapa, nilai-nilai positif, seperti integritas, transparansi serta akuntabilitas perlu menjadi perhatian serius sejak dini di sekolah. 

Penghormatan terhadap para korban, juga sangat penting. Nomorsatukan rakyat, bukan kepentingan pribadi, parpol atau kelompok sendiri. Dan yang tak kalah pentingnya: keteladanan para pemimpin.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.